Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Jumat, 27 Juli 2012

Sahabat Maya


Sahabat maya

Mencari seorang teman tidak seperti memetik bunga di taman. Memetiknya dengan cepat, ketika sudah layu dengan mudah kita buang begitu saja. Begitupun yang di alami oleh Vina, gadis remaja yang saat ini sedang bosan dengan kehidupan nyatanya. Dia bosan dengan pergaulan pertemanan di dalam dunia nyata. Semuanya hanya dilihat dari materi, bukan hati. Vina mengambrukan badannya di kasur yang nyaman, dan menatap langit-langit kamarnya dipenuhi dengan hiasan bintang. Vina memejamkan mata beberapa saat, lalu membuka matanya kembali berharap di hadapannya sudah ada malaikat yang dapat membawanya kedalam dunia aman. Namun kembali kedalam dunia nyata, dia tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamarnya. Vina melirik ke arah macbook kesayangannya yang tergeletak di meja belajar, lalu dia bangkit dari tempat tidur dan duduk di depan meja belajar sambil membuka macbook. Vina mulai membuka situs jejaringan sosial facebook, lalu mengetik email dan password. Dilihatnya notifications dari sesorang yang bernama Vino “Hei boleh kenalan gak? Aku Vino dari Bekasi.” Tanpa pikir panjang Vina membalasnya “Boleh. Aku Vina dari Jogja”. Sesudah ia membalas, ada message dari Vino “Boleh gak aku tau nomor handphonemu? Aku pengen jadi sahabatmu.” Vina merasa risih ketika ditanyakan nomor handphone karena menurutnya itu pribadi banget, namun Vina merasa tidak ada salahnya memberikan nomor handphone kepada Vino. Beberapa saat setelah message itu dikirim, handphone kesayangan Vina berbunyi. Dilihat pada layar LCDnya tertera nomor yang tidak ia ketahui, segera Vina mengangkatnya.
“Hallo, ini siapa ya?” tanya Vina.
“Aku Vino. Makasih ya boleh tau nomor handphonemu” kata cowok di sebrang telpon sana.
“Iya sama-sama.”
“Boleh gak aku jadi sahabatmu?” tanya Vino perlahan.
Vina terdiam sesaat, memikirkan apakah dia bisa menjadi sahabatnya?
“Tentu boleh dong.” Jawab Vina dengan ceria.
Vina tidak ingin seperti teman-temannya dalam dunia nyata, yang terlalu memilih dalam pertemanan. Buat Vina, berteman atau bersahabat dengan siapa saja itu tidak jadi masalah buatnya., toh Tuhan saja mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi satu sama lain.
***
Satu tahun sudah Vina bersahabat dengan Vino, ternyata menyenangkan sekali. Walaupun hanya melalui dunia maya Vino dan Vina bersahabat, justru itu yang membuat Vina merasa nyaman. Entah kenapa dia lebih percaya pada sahabat dunia mayanya dari pada sahabat dalam dunia nyatanya, segala cerita tentang dirinya dapat ia ceritakan kepada Vino.  Vino sering membuat Vina kesal, dan mereka bertengkar tetapi dalam konteks bercanda, setiap kali telphone atau sms mereka seperti tikus dan kucing. Dari pertengkaran dalam konteks bercanda itulah yang membuat persahabatan tidak selamanya menegangkan, ada kalanya di dalam persahabatan dibutuhkan pertengkaran, canda dan tawa. Tapi Vina berharap dia bisa bertemu dengan Vino walaupun hanya sebentar. Handphone Vina berdering tanda panggilan masuk, lalu dia segera melihat pada layar LCDnya ternyata Vino.
“Hallo, iya No ada apa?” tanya Vina
“Gak apa-apa kok, aku cuma kangen aja pengen denger suara kamu.” Jawab Vino di sebrang sana.
“Hahahaa bisa aja deh kamu No.” Jawab Vina dengan tawa. “Eh No, kapan nih kita ketemuan? Pengen deh jalan bareng.” Lanjut Vina.
“Iya nih kapan ya? Oh ya, gimana kalau kita lulus-lulusan nanti?” tanya Vino.
“Wah boleh tuh. Nanti ketemuannya di Jakarta aja ya? Heehehe” Vina menyetujui ide dari Vino.
“Oke deh. Sekarang kita belajar aja dulu yang bener. Supaya pas kita jalan juga happy. Hehehe” kata Vino sambil menasihati.
“Ok No. Setuju!” Vina kembali menyetujui nasihat yang diberikan oleh Vino.
Telpon dari Vino juga terputus, sementara Vina tersenyum senang.
***
Dua tahun sudah mereka bersahabat, tidak menyangka ternyata persahabatan dalam dunia maya ini semakin erat saja. Vina juga senang mendapatkan berita bahwa Vino sudah mempunyai kekasih bernama Hana. Vino memperkenalkan Hana kepada Vina. ‘Cewek itu beruntung banget deh pasti dapetin Vino, soalnya Vino kan baik banget, perhatian, dan ramah.’ Batin Vina dalam hati. Entah kenapa, Vina merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Ada perasaan takut menyelimuti dirinya. Cemburukah? Tapi enggak mungkin. Vina bahagia melihat sahabatnya bahagia. Dia hanya takut, Vino melupakannya. Bunyi sms membuat Vina melupakan apa yang dipikirkannya tadi, gadis ini segera membuka pesan sms tersebut.

From : Vino
Hey Na, aku cuma mau bilang. Walaupun aku udah punya pacar, aku gak akan ngelupain kamu kok tenang aja. Aku janji sama diriku sendiri akan membagi waktuku antara sahabat dan pacar. Lagian Hana pasti ngerti kok, dia juga kan udah kenal sama kamu. Aku yakin Hana bukan tipe cewek yang posesif. Gak usah takut ya sahabat. Aku juga janji sama kamu gak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaan apapun. :) 


Vina tersentak kaget membaca isi sms yang dikirimkan oleh Vino, seakan-akan dia bisa membaca pikiran gadis ini. Tetapi sesaat setelah itu, Vina merasa tenang perasaannya saat ini. Vina percaya bahwa sahabatnya akan menepati janjinya, dan tidak akan pernah bohong.
***
Tiga tahun terasa begitu cepat, saat ini Vina sedang sibuk dengan dunia nyatanya. Gadis ini sedang mempersiapkan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. Vina merindukan dunia mayanya, namun apa boleh buat dia tidak dapat terus-terusan bersantai ria. Sesekali menatap layar handphone tidak ada telepon juga sms yang masuk. Merindukan seorang sahabat, itulah perasaan Vina saat ini, Sosok Vino yang selama dua tahun menemaninya, saat ini menghilang entah kemana. ‘Vino kan udah ada Hana, pasti udah ada temennya juga. Ah nanti aja deh hubungi dianya kalo aku juga udah gak sibuk.’ Batin Vina dalam hati.
Kesibukan Vina di kelas 12 ini membuat dirinya selalu menunda untuk menyapa Vino lebih dulu. Dia mementingkan dunia nyatanya, karna hidup dan matinya selama 3 tahun belajar di SMA akan di tentukan dalam waktu empat hari saja.
Malam ini waktu Vina agak senggang dari biasanya, dia keluar kamar dan menatap bintang-bintang yang bersinar di langit malam. Ada satu bintang yang bercahaya terang, seakan cahayanya masuk dalam hati dan mata Vina. Gadis ini teringat akan sahabatnya Vino, lalu dia segera mengambil handphonenya, menekan nomor handphone Vino, dan mengetik sms untuk sahabatnya.

To : Vino
No, kamu apa kabar? Gimana persiapan ujiannya? Udah siap belom nih? Aku kangen kamu deh. Maaf yaa aku sibuk banget semenjak kelas 12 ini. Oh ya gimana hubungan kamu sama Hana? Baik-baik aja kan, No?


Setelah mengetik sms untuk Vino, gadis ini segera masuk ke kamarnya dan mengambrukkan badannya di tempat tidur. ‘Vino tumben bales sms ku lama banget.’ Batin Vina. Mata gadis ini mulai terpejamkan.
***
Hari demi hari berlalu dengan cepat, ujian-pun di depan mata. Tinggal menghitung hari. Vina yang mendapatkan libur dihari persiapan Ujian Nasionalnya memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan belajar. Saat ini tidak perlu belajar yang terlalu ekstra karena bukan waktunya lagi belajar ekstra, saat ini yang dibutuhkan hanya mengulang, membaca dan latihan soal-soal ujian nasional.
Malam ini kembali Vina merasakan rindu yang terlalu dalam kepada sahabatnya, sudah beberapa bulan tidak ada kabar tentang dirinya. Vina terbaring di tempat tidur dengan nyaman dan membuka aplikasi e-buddy miliknya. Gadis ini melihat ada nama “Hana” sedang online, lalu dia memberanikan diri untuk menanyakan kabar tentang dirinya dan Vino.

“Hallo Hana. Apa kabar? Gimana hubungan kamu sama Vino? Langgeng kan?” tanya Vina
“Kabar baik Na. Aku udah putus kok sama Vino. Hehehe….” Jawab Hana
Vina kaget mendengar berita ini. “Hah?!! PUTUS?! Kok Vino gak cerita-cerita ya sama aku? Emang kenapa kok bisa putus Han?” tanyaku heran
“Iya… Alasannya gak tau, Vino yang mutusin aku. Katanya sih ada cewek dihatinya dia.” Jawabnya
“Hah? Kok jahat banget sih Vino. Kamu yang sabar ya Han, nanti kalo aku telepon-teleponan sama dia, biar aku omelin deh dianya. Eh ya Vino kabarnya gimana ya sekarang? Dia aku sms gak dibales nih parah banget deh.” Vina menanyakan kabar kepada Hana dengan hati-hati.
“Lho kamu belum tau tentang Vino?” tanya Hana dengan heran.
“Belum. Emang ada apa ya?” Perasaan Vina mulai tidak enak. Hujan mulai turun membasahi kota Jogja.
“Vino udah meninggal.” Jawab Hana to the point.
Tangan dan kaki Vina mulai lemas, dia tidak sanggup menerima kenyataan ini. Air mata mulai membasahi pipi mungilnya, isakan tangis mulai terdengar.
‘Gak mungkin! Ini gak mungkin! Vino gak mungkin meninggal!!! Vino gak mungkin meninggal!!!!!’ batin Vina sambil menangis.
Vina mulai memberanikan diri untuk membalas chat dari Hana.
“Han, kamu bercanda ya? Ah kamu nih kena ketularan Vino ya? Vino kan hobinya bercanda terus. Hehehe” Vina berharap Hana sedang bercanda, ia pasti sedang bercanda.
“Aku gak lagi bercanda. Buat apa aku bercanda mengenai hidup dan mati seseorang Na. Kamu ikhlasin Vino ya. Sekarang dia udah tenang disana.” Jawab Hana dengan kesungguhan hati.
Air mata mulai turun dengan deras membasahi pipi Vina. ‘Tuhan ini gak mungkin kan? Vino masih ada kan Tuhan?’ Vina tidak berhenti menangis mendengar kabar ini.
“Vino kapan meninggalnya?  Kenapa bisa meninggal?” tanya Vina dalam tangisan.
“Vino meninggal tanggal 13 November 2009. Dia mengidap penyakit paru-paru basah.” Jelas Hana. Vina melihat kalender di depan meja belajarnya, ternyata sudah empat bulan Vino meninggal dunia.
“Boleh tau nomor handphone mamanya?” tanya Vina ingin meyakinkan dirinya sendiri.
“Boleh. 08121344xxxx” balas Hana.
“Makasih banyak ya, Han. Semoga Vino tenang di surga :’)” Vina mengucapkan terima kasih kepada Hana dengan perasaan yang sedih.
“Sama-sama Na, kamu yang sabar ya. Aku pikir kamu udah tau semuanya ini.” Balas Hana lagi.
“Iya gak apa-apa kok.” Jawab Vina masih dalam tangisannya.
***
Vina masih tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Hana, mantan pacar Vino. Gadis ini segera menekan nomor handphone mamanya Vino.

“Hallo selamat pagi Tante.” Salam Vina dengan halus.
“Iya selamat pagi juga. Ini siapa ya?” balas salam Mama Vino.
“Saya Vina Tante, sahabat dunia maya-nya Vino.” Jawab Vina dengan jujur.
“Oh, Vina. Iya, Vino sering cerita tentang kamu. Ada apa Na?” Ucap Mama Vino.
“Cerita tante? Vino suka cerita apa tentang saya? Maaf Tante sebelumnya, kemarin saya dapet kabar dari Hana mantan pacarnya Vino, katanya Vino meninggal. Benar itu Tante?” tanya Vina dengan hati-hati supaya tidak menyinggung hati Mama Vino.
“Iya banyak banget yang di ceritain tentang kamu. Hm… Iya sayang Vino udah engga ada, dia udah pergi empat bulan yang lalu. Sekarang dia udah tenang di surga, sama Papi Jesus.” Jelas Mama Vino.
“Tante… Ini gak mungkin. Gak mungkin Vino meninggal kan tan? Gak mungkin secepat ini kan ya Tante? Tolong Tante bilang kalo Vino masih ada.” Air mata mulai turun membasahi pipi mungil Vina, dan isakan tangis terdengar oleh Mamanya Vino.
“Bener sayang. Tante gak bohong. Dia meninggal karena paru-paru basah. Vina dateng aja ke bekasi. Tante juga mau kasih sesuatu sama kamu.” Ucap Mamanya Vino.
“Iya Tante, saya akan kesana kalau sudah kelulusan nanti. Saya dan Vino udah berjanji akan ketemuan di sana.”  Jawab Vina.
Setelah menyudahi telepon bersama mamanya Vino. Saat ini Vina merasa sendirian, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Sahabatnya telah pergi jauh dan dia tidak bisa menyapanya lagi setiap saat. Bertengkar, bercanda, tertawa dengannya pun tidak dapat ia lakukan lagi. Saat ini hanya dirinya sendiri yang harus menjalani hidup, tanpa sahabat disampingnya.

“Tuhan seperti inikah jalan hidup persahabatanku? Aku harus kehilangan sahabatku lagi. Udah cukup Tuhan, Engkau ambil sahabatku Suci, tapi kenapa Vino harus ikut bersamamu? Kenapa Tuhan? Aku masih membutuhkannya. Hanya dia Tuhan yang bisa ngertiin aku. Hanya dia! Aku merasa nyaman Tuhan bersama dengan dirinya. Aku bahagia Tuhan mempunyai sahabat sepertinya.” 


“Vino kenapa kamu ninggalin aku, secepat ini? Mana janjimu ingin selalu bersama dan menjagai aku? Mana No? Kamu bohongkan?! Kamu bilang, mau ketemu aku nanti setelah kita lulus. Tapi mana? Kamu udah pergi No, pergi ninggalin aku sendirian disini. Kamu jahat No. JAHAT!!! Kamu jahat gak ngebiarin aku lihat kamu dulu, walau cuma sebentar aku bahagia No. Aku sedih Vino, sekarang siapa yang bisa aku ajak berantem? Cerita? Bercanda? Tertawa? Gak ada lagi No. Gak ada lagi!!” 


***
Ujian pun telah usai, dan Vina berhasil mengerjakan semuanya. Hingga pada akhirnya dia mendengar berita yang membuatnya bahagia. Gadis ini lulus dengan nilai yang cukup baik. Vina melihat ke langit dan berkata “No, aku lulus! AKU LULUS NO! Aku bisa mematahkan musuh terbesarku yaitu matematika. No, sebentar lagi aku mau ke Bekasi. Mau ketemu sama kamu, sesuai dengan janji kita. Setelah kelulusan kita pasti bertemu. Tunggu aku ya No.” Vina meneteskan air mata lalu segera dia hapus dengan tissue.
Vina sudah tiba di Adi Sucipto Airport dan menunggu pesawatnya tiba. Tidak lama Vina menunggu pesawat akhirnya pesawat tujuan Jakarta segera terbang. Selama lima puluh menit Vina berada dalam pesawat akhirnya dia sampai di Soekarno Hatta International Airport. Gadis ini tidak membawa banyak barang jadi tidak perlu menunggu bagasi, Vina langsung keluar dan menaiki bus damri jurusan bekasi. Sesampai di terminal bekasi dia bertemu dengan mamanya Vino. Vina sangat berharap Vino masih hidup, dan memberikan surprise untuknya. Tapi tetap saja sampai dirumahnya, dia tidak melihat sosok pria yang menyerupai Vino.
“Kamu cari siapa sayang?” tanya Mama Vino
“Vino tante.” Jawab Vina dengan polos.
“Sayang, Vino sudah bersama Papi Jesus.” Mama Vino mengusap rambut Vina dengan lembut.
Vina hanya tersenyum datar.
“Tante, kenapa ada foto-foto saya disini?” tanya Vina heran.
“Kamu baca ini aja ya sayang.” Mama Vino memberikan kotak berwarna biru.
Vina membuka kotak itu dan ada kertas, juga foto editan Vino dengan dirinya. Lalu gadis ini mulai membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.

Dear Vina,

Hei Vina mungkin disaat kamu baca surat ini, aku udah tenang disurga bersama Papi Jesus. Vina, sebelumnya aku minta maaf sama kamu, karna aku tidak memberitahu tentang penyakitku ini sama kamu. Aku gak mau kamu sedih, dan ngerasa kasihan sama aku. Disini aku sadar ternyata anggapan dari teman-teman kamu tentang kamu itu salah, justru kamu yang belum lihat aku dan tahu seluk beluk aku, kamu mempunyai hati yang baik. Kamu mau menerima aku apa adanya, bukan ada apanya. Aku bangga bisa kenal sama kamu. Kamu itu walaupun cuek tapi punya hati yang tidak tegaan dan sayang dengan sesama. Oh ya, mungkin kamu sedikit bingung kenapa banyak foto-foto kamu dirumahku, alasanya supaya kalau aku datang ke rumah ini bisa selalu lihat senyumnya kamu, walau hanya melalui foto. Sejujurnya aku menyukai kamu, tapi aku sadar aku bukan orang yang tepat untuk kamu. Aku gak mau kamu sedih ngeliatin kondisiku, dan sampai akhirnya harus ninggalin kamu. Menjadi seorang sahabatmu itu jauh lebih dari cukup untuk aku. Maafin aku karna tidak bisa menepati janji untuk bertemu dengan kamu setelah kelulusan. Ternyata penyakitku jauh lebih hebat dari pada aku. Aku yakin kamu mendapatkan nilai yang baik di ujian nasional ini, kamu kan pinter. Vina, kamu jangan sedih ya…. Walaupun aku pergi jauh tapi aku tetap bersamamu, disamping kamu, dan terus menjaga kamu disetiap waktu. Ya, jiwaku memang sudah pergi tapi aku selalu bersama denganmu. Persahabatan kita gak pernah putus kok, persahabatan kita tetap terus terjalani. Aku dan kamu tetap bersahabat sampai kapan pun.Vina, kamu janji ya sama aku jangan nangis dan sedih lagi. Aku udah bahagia kok disini bersama Papi  Jesus. Aku bisa setiap hari melihat segala aktivitas kamu. Aku yakin kamu wanita tegar yang selama ini aku temui. Sahabatku, jangan pernah lupakan persahabatan kita ya. Walau hanya dalam dunia maya, persahabatan ini punya kenangan. Mungkin, segini aja surat dari ku untu kamu. Aku yang selalu merindukan, dan menyayangimu,


Vino sahabatmu…..


Vina tersenyum membaca surat dari Vino, air matanya hendak turun namun tangan Vina dipegang oleh Mama Vino dan ditarik lembut “Ikut Tante sekarang yuk?” Vina hanya mengikuti langkah kaki mamanya Vino, dan disana terlihat makam Vino.Vina kembali meneteskan air mata dan melihat kenyataan yang benar-benar pahit.
‘Vino benar-benar pergi…..’ batin Vina sambil menangis.
“Tante, boleh tinggalin aku sendirian?” pinta Vina. Mama Vino pun mengangguk.
Setelah langkahan kaki Mama Vino tidak terdengar, air mata Vina turun dengan cepat.

“No, ternyata kenyataan yang aku terima pahit ya. Di hadapanku saat ini sudah ada nisan salib bertuliskan namamu. Aku masih gak nyangka, seperti mimpi buruk untukku berada di depan makammu saat ini. No, kamu harus tau. Sebenarnya aku juga menyukaimu. Tapi aku gak mau perasaan ini terus-terusan ada dalam benakku. Aku hanya ingin kamu menjadi sahabatku selamanya. No, aku janji gak akan sedih lagi. Tapi boleh ya aku datang setiap waktu ketempatmu, karna rencananya aku akan kuliah di Jakarta. Vino, aku gak akan melupakan persahabatan kita sampai kapan pun. Walaupun kamu tlah pergi tapi aku percaya kamu selalu bersamaku disetiap waktu karna persahabatan itu akan selalu bermakna dan melebihi apapun yang ada di dunia ini. Aku yang merindukanmu dan menyayangimu. Vina sahabatmu.”


“Na, akhirnya aku bisa melihatmu. Walaupun kamu tidak bisa melihatku, mungkin dengan foto yang aku berikan untukmu bisa menjadi obat rindu untukmu. Salam sahabatmu Vino…”


“Tuhan Yesus, berikanlah peristirahatan yang kekal untuk sahabatku Vino. Sampaikan salam rindu dan sayangku untuk dirinya. Aku bahagia bila melihatnya bahagia saat ini. Semoga aku bisa menerima kenyataan ini dalam dunia nyataku”


Aku yang merindukanmu dan menyayangimu, salam sahabat…………






Pesan dari cerita diatas tadi mengajarkan kita bahwa berteman itu dengan siapa saja, jangan memandang materi. Belum tentu mereka yang kaya dan saat ini menjadi sahabatmu tulus menjadi sahabatmu. Jangan menilai seseorang dari materi atau pun fisiki. Jangan sampai orang yang kamu buang malah justru itu yang kamu cari selama ini. Saling menyayangi satu sama lain. 
Ketika kita merindukan seseorang segeralah berkomunikasi dengan mereka yang kamu rindukan, jangan sampai penyesalan selalu menghantui dirimu.
Tetap menjadi sahabat yang baik untuk sahabatmu :)


-Regina Krisna Santi-

1 komentar:

rendy wijaya mengatakan...

wah, ceritany sedih bgt. huhu

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer