Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Senin, 31 Desember 2012

Aku, Kamu dan Kita



Aku duduk termenung menatap langit malam, tak ada satu bintang pun yang bersinar. Awan terlihat gelap, kilat mulai bermunculan, serta suara gemuru terdengar jelas ditelingaku. Dalam hitungan detik, hujan turun membasahi kota ini. Malam ini seperti tiga tahun yang lalu, saat aku mendengarkan kabar duka yang disampaikan oleh Helena, mantan pacar Alvin, bahwa Alvin telah berpulang ke rumah Bapa di Surga. Ya, Alvin sahabatku kini sudah bersama Bapa di Surga. Aku sangat merindukan sosok sahabatku. Sejak Kevin hadir memasuki kehidupanku semuanya berubah seketika, aku kembali ceria dan bangkit dari kesedihan. Tanpa aku sadari  sosok Alvin ada dalam diri Kevin. Memang tidak ada yang bisa menggantikan sosok Alvin, tapi entah mengapa disetiap gaya bicara, perhatian, dan perlakuan Kevin kepadaku sama halnya yang dilakukan Alvin kepadaku. Aku beruntung mempunyai sahabat seperti Alvin dan Kevin, yang selalu memberikan support ketika aku sedang mempunyai masalah, dan menyayangiku. Ada sesuatu yang membuat aku takut. Ya aku takut, apabila suatu hari aku mencintai sahabatku sendiri, sama halnya ketika dulu aku mencintai Alvin sahabatku sendiri. Tetapi aku sadar, bahwa persahabatan tetap persahabatan bukan cinta, walau pada kenyataanya sahabat bisa jadi cinta. Sejauh ini aku belum mempunyai perasaan lebih dengan Kevin. 
“Abeeeeeel” teriak seorang cowok membuyarkan lamunanku.  Aku menoleh kearah suara tersebut, ternyata Kevin.
“Vin, bisa gak sih ketok pintu dulu. Kamar cewek nih.” Kataku cemberut.
“Ya maaf, abis kata Tante Mira disuruh langsung masuk aja sih.” Belanya.
“Ya tapi kan ketok pintu dulu.” Kataku kembali.
“Iya iya maaf deh. Eh jalan yuk? Dari pada kamu galau sendirian dikamar.” Ajaknya
“Kemana? Males ah.” Jawabku sambil memandang jalanan. 
“Kemanapun kaki kita melangkah.” Jawabnya.
“Hah? Jalan kaki? Aduh capek, Vin.” Kataku.
“Abel sahabatku, itu cuma kiasan aja kok. Yuk jalan.” Kevin menarik tanganku keluar dari kamar, dan meminta ijin pada Mama.
Aku tidak tahu Kevin ingin membawaku kemana, aku hanya duduk manis menatap derasnya hujan hingga akhirnya hujan berhenti. 
“Vin, mau kemana sih? Kita udah jauh banget lho ini.” tanyaku sambil menatap wajah Kevin.
“Sebentar lagi sampai kok tenang aja.” Jawabnya sambil konsentrasi mengendarai mobil.
Aku masih duduk manis dengan memandang seluruh isi jalan, dan mendengarkan radio yang malam ini memutarkan lagu cinta dan persahabatan. 
Akhirnya mobil diparkirkan dipinggir jalan, tetapi aku tidak tahu tempat apa ini. Terlihat sepi, tidak ada orang yang mengunjungi tempat ini. 
“Kita sudah sampai, yuk turun.” Ajak Kevin.
Aku membuka pintu dan keluar, menghirup udara yang membuat hati menjadi tenang. Kevin mengandeng tanganku, sementara aku hanya pasrah membiarkan Kevin membawa aku ketempat yang dia inginkan.
SURPRISE! Indah sekali.
Disini aku seperti dekat dengan bintang yang bersinar dilangit malam, angin yang berhembus membuat ketenangan dalam hati. Udara sejuk membuat hati jadi damai.
“Gimana?” tanya Kevin padaku.
“KEREN VIN.” Aku tersenyum senang.
“Ini namanya Bukit Bintang. Sayangnya cuma sedikit bintang yang bercahaya pada malam hari ini, bintangnya ada dihati kamu semua sih. Hehehhe” kata Kevin gombal.
“Ih apaan sih Vin, gombal banget.” Jawabku tersipu malu.
“Hhehee engga bercanda kok, ya… seandainya enggak ada hujan malam ini pasti banyak banget deh bintangnya.” Jelas Kevin, dan aku hanya mengangguk.
“Bintang yang paling bercahaya itu pasti Alvin deh.” Kataku sambil memandang bintang.
“Alvin… Alvin… Alvin… Alvin udah gak ada Bel. Alvin udah meninggal. Alvin udah tenang di Surga. Saat ini kamu udah punya aku Bel. Aku sahabatmu, bukan Alvin.” Gerutu Kevin.
“Alvin emang udah meninggal, tapi dia tetap sahabatku. Sampai kapan pun dia tetap sahabatku. Kamu dan dia adalah sahabatku. Ngertikan kamu?!” tanyaku penuh emosi.
“Kamu harus lupain dia! Kamu gak boleh terus-terusan inget dia!” bentak Kevin
Rasanya sakit ketika Kevin membentakku seperti itu, air mata yang tadinya tidak ingin turu, akhirnya turun membasahi pipiku. Aku menangis dihadapan orang yang sudah membentakku. Jelas aku tidak bisa melupakan Alvin, bagaimana pun juga Alvin adalah sahabatku. 
“Aku sadar kok, kamu belum pernah merasakan kehilangan seseorang yang kamu sayangi, suatu saat kamu pasti  merasakan hal yang sama kaya apa yang aku rasakan saat ini. Sakit Vin kamu ngomong kaya gitu ke aku.”  Kataku dengan tangisan.
Kevin merasa bersalah melihat aku menangis “Aku minta maaf.” Lalu tangannya mengelus kepalaku dan memelukku.
“Bel, kamu mau kan maafin aku?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Makasih ya.” Lanjutnya.
“Hm seandainya aku meninggal kayak Alvin, apa kamu akan seperti ini?” tanya Kevin dengan wajah polos.
“Apaan sih ngomongnya. Kamu gak boleh pergi ninggalin aku.” Kataku cemberut.
“Hahahahhaa engga kok bercanda.” Kevin mengacak-acak rambutku dengan halus, aku merasakan kehangatan berada dalam pelukan Kevin. “Vin… Vin…” Kevin mengerti apa maksudku, lalu dia melepaskan pelukannya. “Maaf maaf yaaa….” Kata Kevin dengan salah tingkah, aku hanya tersenyum.
*** 
Pagi ini matahari bersinar dengan terang, memberikan semangat dan senyuman. Aku tersenyum ketika melamunkan kejadian di Bukit Bintang semalam, ini pertama kalinya Kevin memeluk aku dengan lama. Aku mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam diriku. Apa aku mulai mencintai Kevin? Oh enggak mungkin, aku enggak mungkin mencintai dia, aku harus menepis perasaan ini semua. Aku rasa, perasaan ini tidak boleh terus-terusan ada dalam hatiku. Mungkin aja aku hanya kagum dengan perlakuan dia kepadaku, lagian aku bukan cewek yang diimpikan oleh Kevin. Aku tahu pasti tipe cewek yang Kevin inginkan. Cantik, putih, pintar, dan se-marga. Menurutku, itu semua tidak ada dalam diriku. Aku hanya kagum, ya kagum. Buatku cukup menjadi sahabatnya saja sudah kebahagiaan untukku. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Aku baca pesan masuk dari Kevin.

 “Bel, sahabat boleh gak sih jadi cinta? -Kevin” 

Aku tersentak kaget membaca sms dari Kevin. Apa Kevin mempunyai perasaan yang sama denganku? Sebelum aku membalas sms Kevin, dia sudah mengirimkan sms lagi.

“Hm kayaknya gak deh, soalnya kalau sahabat jadi cinta akan berakhir pahit. Seandainya nih ya, kita pacaran terus putus pasti kita jadi musuh. Kita gak boleh pacaran ya Bel. –Kevin ”  

What?! KITA? PACARAN? Ini enggak mungkin! Enggak mungkin Kevin bisa ngomong gitu padaku. Apa Kevin mempunyai perasaan yang sama denganku? Ah enggak! Kevin pasti hanya kagum padaku, sama halnya seperti aku kagum padanya. Tanganku gemetar membalas sms darinya.

“Hahaha Kevin Kevin.. Aku juga gak mau pacaran sama kamu. Tapi gak ada salahnya kok sahabat jadi cinta, karena enggak selamanya kalau pacaran terus berakhir menjadi musuh. Justru dengan pacaran bisa menjadi sahabat sejati. -Abel” 

Bodoh! Kenapa aku selalu membohongi perasaanku sendiri. 

“Iya sih, tapi kita lebih enak menjadi sahabat selamanya. Kita sama-sama cari cinta kita. –Kevin”

“Iya betul mending jadi sahabat selamanya. –Abel”

Aku tersenyum pahit ketika membalas sms dari Kevin, dan air mata pun menetes membasahi pipiku.

“Kita janji ya akan menjadi sahabat selama-lamanya. Gak boleh ada yang kita tutup-tutupin, sekali pun itu perasaan yang ada dalam diri kita masing-masing. –Kevin”

Setelah membaca sms dari Kevin aku merasa bahwa saat ini aku sudah membohongi perasaanku sendiri. Entah sampai kapan perasaan ini harus aku pendam, biarkan waktu yang menjawabnya.

(Mau tau kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaa...)
 



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer