Menemukanmu
“Niki…. Nikiiii…”
panggil seorang cowok diluar rumah dengan nada yang terdengar oleh Niki dari
dalam rumah. Niki terkejut mendengar suara cowok itu, dan dalam hatinya berkata
NATA.
“Nik, tuh temen lo
nyariin. Gak sopan banget sih lalu lalang gitu.” Kata Dhani
“Siapa kak? Gak tahu,
dia ke lapangan bulutangkis tuh.” Jawab Dhani ketus.
Niki keluar rumah dan
berjalan menghampiri cowok yang dimaksud oleh Dhani.
“Niki sini” ajaknya.
“Duh ngapain sih lo Nat
kerumah gue. Lagian lo tahu dari mana alamat rumah gue?” tanya Niki heran.
“Ya ampun, Niki. Gue
tahu rumah lo itu dari Helena.” Senyumnya.
“Terus lo mau ngapain
kesini?” tanya Niki ketus.
“Nik, gue mau ngomong
sesuatu sama lo. Gue selama ini sayang sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?”
Nata mengungkapkan isi hatinya pada Niki. Niki terkejut mendengarkan pernyataan
rasa sayang dari Nata.
“Apaan sih, gue cuma
anggep lo temen gue doang, gak lebih. Sekarang lebih baik, lo sekarang pulang
aja ya. Gue capek mau istirahat.” Setelah mengatakan penolakannya, Niki kembali
meninggalkan Nata mematung sendirian di lapangan bulutangkis.
Tokk..
tokk.. tokkk…
Suara
ketukan pintu menghancurkan lamunan Niki malam hari yang dingin.
“Siapa?”
tanya Niki dari balik kamar.
“Dek,
ditunggu Mama sama Papa untuk makan malam.” Suara Kak Dhani terdengar dari luar
kamar.
“Gue
gak laper kak.” Katanya.
Malam
itu Niki tidak merasakan lapar, entah mengapa sudah dua hari ini dia selalu
mengingat nama Nata, sahabatnya semasa SD. Sudah sembilan tahun Niki lost contact dengan Nata. Semenjak
pernyataan cinta itu, Nata tidak pernah kelihatan lagi dikelasnya. Teman-teman
Nata memberitahu Niki kalau dia pindah sekolah karena Papanya ditugaskan di
Medan, dan semenjak saat itu pula Niki merasakan arti kehilangan seorang
sahabat. Tetapi ada satu penyesalan dalam dirinya, Niki belum meminta maaf pada
Nata karena telah menolak cintanya. Niki saat itu sangat shock dan sangat berharap kalau Nata adalah satu-satunya sahabat
yang bisa menjadi sahabat selamanya bukan cinta.
Dreet
dreeet…
Ponsel
Niki bergetar dan dilihatnya pada layar ponsel tertera nama Anna. Tanpa
berpikir panjang Niki langsung menjawab telepon dari Anna.
“Hallo,
An.” Sapa Niki.
“Nik,
malam ini lo gak lupa kan siaran?” tanya Anna diujung telepon sana.
“Astaga,
Gue lupa!” Niki menepuk jidatnya.
“Aduh
Niki, buruan ya. Gue udah mau off nih.”
“Iya
iya.” Niki mematikan teleponnya dan langsung pamit pada Mama Papa dan Kak
Dhani.
Niki
saat ini sedang sibuk dengan skripsinya, namun untuk mengisi waktu luang Niki
mencoba untuk kerja part-time sebagai
penyiar di salah satu radio di kampusnya.
***
Ketika
Niki sampai di area kampus, terlihat mobil Anna masih ada di area parkir
kampus. Tanpa berpikir panjang lagi, Niki berjalan dan langsung memasuki
stasiun radio kesayangan mahasiswa di kampusnya. Niki melihat Anna sedang
membaca majalah-majalah yang biasanya selalu disiapkan oleh Redaksi Radio.
“An,
lo belum pulang?” sapa Niki pada Anna.
“Gimana
gue mau pulang kalau lo belum keliatan batang hidungnya, Niki sayang.” Jawab
Anna dengan senyuman. Anna selalu memberikan senyuman ketika sedang kesal
sekali pun, dia adalah sahabat yang terbaik, tidak pernah marah dan selalu
dewasa.
“Sorry sorry…. Gue tadi kelupaan, besok
gue traktir ice cream deh.” Bujuk
Niki sebagai permohonan maaf.
“Emang
lo kenapa sih. Nik?” tanya Anna sebagai tanda perhatian pada Niki.
“Ya
gitu deh…” jawab Niki sekenanya.
“Ya
udah lo siaran dulu gih, gue tunggu di luar ya?” Anna mempersilakan Niki untuk
membuka siaran di malam hari.
Seperti
biasa Niki menyapa pendengar setia radio kampusnya, “Hai selamat malam sobat
muda, kembali lagi malam yang penuh cinta ini ditemani oleh Niki. Gimana nih
kabar sobat muda? Semoga baik-baik aja ya. Buat sobat muda yang mau kirim-kirim
salam atau request lagu favorite boleh kok, yuk langsung aja
kirim smsnya ke no 081257xxxxxx bisa juga via twitter di @radiosukampus atau via LINE searching aja ID kita @radiosukampus. Nah, sekarang Niki puterin
dulu ya beberapa lagu untuk sobat muda, so stay tuned.” Niki sangat mencintai
pekerjaan ini, dari dulu dia sangat ingin menjadi penyiar radio tetapi Mama dan
Papa tidak mengijinkan Niki untuk mengambil jurusan komunikasi, oleh karena itu
Niki mengikuti permintaan Mama dan Papanya untuk mengambil program studi
Psikologi. Buat Niki kebahagiaan orangtua jauh lebih penting dari dirinya. Niki
meninggalkan meja siarannya dan menemui Anna.
“Annaaaaaa…”
Niki merengek-rengek di depan Anna.
“Lo
kenapa, Nik? Ada yang nyakiti perasaan lo? Siapa-siapa? Oliver?” tanya Anna
panik. Oliver adalah pacar Niki saat ini, yang super protektif dan membenci
perkerjaan Niki sebagai penyiar radio kampusnya. Jelas, Niki adalah primadona
kampus, selain pintar dia juga ramah pada semua teman-temannya, termasuk
karyawan di kampusnya.
“Bukan.
Huhuhu…” sedihnya.
“Terus?”
tanya Anna bingung.
Niki
menceritakan kenangan bersama dengan Nata sahabatnya masa SD tersebut kepada
Anna. Anna dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Niki, Anna hanya
memeluknya dan membiarkan Niki bercerita tentang semua yang sedang dirasakannya
saat ini.
“Nik,
lo tenang ya. Lo pasti ketemu lagi sama Nata. Percaya sama gue.” Anna
meyakinkan pada Niki.
“Makasih
ya, An. Lo emang sahabat terbaik gue.” Ucap Niki.
“Sama-sama
Nik. Ya udah lo siaran lagi gih, gue tungguin lo sampai selesai siaran deh, gak
tega kalau ninggalin lo sendirian.”
“Makasih
banyak An. Tapi An, gue bingung malam ini mau bahas tentang apa? Jujur gue
belum siap apa-apa.” Niki panik karena belum menyiapkan bahan materi untuk
siaran malem ini.
“Hm…
duh.. apa ya Nik. Gue juga bingung.” Anna mencari-cari ide. “AHA! Kalau lo gak
keberatan sih, gimana kalau kisah lo ini dijadikan bahan materi aja, gimana?”
tanyanya.
“Tapi
kan…..”
“Katanya
mau ketemu sama Nata, gak ada salahnya kan lo membuka cerita tentang kisah lo
itu? Siapa tahu nih ya, Nata lagi di Jakarta terus dengerin radio.” Jelas Anna.
“Tapi
kan…”
“Udah
ah, Nik. Gak ada tapi-tapian. You can try
it!”
“Oke.”
***
Sudah
hari kedua setelah siaran tersebut, Niki semakin berharap kalau dia dapat
bertemu kembali dengan Nata. Dia percaya bahwa suatu saat akan menemukan Nata
sahabatnya. Niki kembali memasuki area radio kampusnya, namun ada seorang yang
menepuk pundaknya.
“Hai…
sorry mau tanya, Ruang Dosen Fakultas
Farmasi dimana ya?” tanya seorang cowok berkacamata dengan postur tubuh yang
seperti atletit.
“Tinggal
lurus aja, mentok belok kiri. Disana ada ruangan Sekretariat Farmasi, kamu
masuk aja, terus tanya deh sama karyawan disana.” Jelas Niki.
“Ok
makasih.” Jawab cowok itu dengan senyuman. Niki meninggalkan cowok itu mematung
sendirian di area radio kampus, ketika Niki ingin masuk keruangan tiba-tiba
cowok itu memanggilnya lagi.
“Maaf…
maaf…. Lo penyiar radio kampus ini ya?” tanya cowok itu.
“Iya,
kenapa?” tanya Niki heran.
“Gak
apa-apa kok. Gue baru pertama kali dateng ke Jakarta lagi setelah beberapa
tahun gak tinggal disini, terus semalem baru sampai Jakarta dengerin radio
kampus ini, keren juga ya. Suara penyiarnya juga lembut.” Cerita cowok di depan
Niki.
“Oh,
lo pendatang. Mau oper kuliah disini atau gimana?” tanya Niki menghiraukan
pujiannya terhadap radio kampusnya.
“Engga
kok. Papa Dosen Farmasi.” Jawabnya.
“Oh
oke. Gue masuk dulu ya, mau siaran.” Pamit Niki.
“Oh
iya silakan.” Cowok berkacamata ini mempersilakan Niki untuk masuk, namun ada
suara cowok memanggil nama Niki.
“Niki…”
Niki kembali keluar ruangan dan melihat siapa yang memanggil namanya, dia
melihat ada Oliver dan cowok berkacamata. Cowok ini diam dan menerka-nerka nama
yang tadi disebut oleh pacarnya cewek ini.
“Ada
apa?” tanya Niki enggan.
“Kita
jalan yuk? Kamu udah gak ada kelas kan?” tanya Oliver.
“Sorry
Oliver, aku harus siaran sekarang. Aku nanti malem gak bisa siaran karena besok
ada ujian jadi tukeran sama temanku. Maaf ya.”
“Kamu
selalu sibuk dengan pekerjaanmu yang gak jelas ini ya.”
“Apa
kamu bilang, gak jelas? Aku cinta dengan pekerjaan ini. Ya udah kalau kamu gak
suka dengan pekerjaan aku lebih baik kita putus aja, aku capek sama kamu. Gak
pernah ngertiin dan menghargai pekerjaan aku.” Niki memutuskan untuk mengatakan
hal tersebut. Cowok berkacamata dari tadi mendengarkan pertengkaran antara Niki
dan Oliver.
“Gak
bisa gitu dong Nik.” Tangan Niki digenggam erat oleh Oliver.
“Lepasin
tangan aku Oliver, sakit.” Niki berusaha untuk melepaskan tangannya dari
genggaman Oliver, namun Oliver cukup kuat untuk menggenggam tangannya.
“Aku
bilang lepasin, kita udah putus.” Suara Niki mulai meninggi.
“Aku
gak akan lepasin tangan kamu sebelum kamu terima tawaran pergi aku.” Oliver
tetap keukeuh.
“Kita
udah putus. Lepasin tanganku.” Genggaman Oliver semakin erat, cowok berkacamata
itu tidak tega melihat cewek diperlakukan seperti itu oleh seorang cowok. Tanpa
berpikir panjang cowok berkacamata turun tangan “Mas maaf, tolong lepasin
tangan ceweknya. Jadi cowok gak boleh kasar sama cewek.” Oliver yang sedang
emosi ditambah emosi dengan perkataan cowok berkacamata ini dan pukulan
mendarat dipipi cowok tersebut. Cowok berkacamata yang gagah ini terjatuh dan Oliver
memukulnya tiada henti. Niki mencoba untuk melerainya, kemudian Oliver pergi
meninggalkan mereka berdua. Niki mencoba membangunkan cowok yang dari tadi
dipukul oleh Oliver tanpa melawannya dan membawa masuk ke ruangan radio.
“Lukanya
gue bersihin dulu ya.” Niki mencoba untuk membersihkan luka-luka yang ada pada
wajah cowok ini, dan dia melihat ada tanda lahir di pelipisnya. “Nata.” Ucapnya
tanpa sadar.
“Lo
kok tau nama gue?” tanyanya heran. Niki hanya terdiam membisu dan berhenti
membersikan luka-luka diwajah cowok yang mengaku sebagai Nata.
“Hei
kok lo tau nama gue?” cowok ini kembali mengulang pertanyaannya.
“Lo
beneran Nata?” tanya Niki.
“Iya
gue, Nata.” Jelas Nata.
“Gue…
gue… gue… Niki, Nat. Lo masih inget gue gak?” tanya Niki gugup.
“Niki?
Niki siapa ya?” Nata tersenyum.
“Niki
yang dulu….. ah ya udah lah mungkin lo bukan Nata yang gue cari.” Niki
memalingkan wajah, dan wajah Niki berubah yang tadinya ceria menjadi sedih.
“Niki
yang dulu nolak cinta gue?” ucap Nata meledeknya.
“Lo
beneran Nata kan?” tanyanya memastikan.
“Iya.”
Nata kembali memberikan senyum yang khas untuk Niki.
“Nataaaaaa……”
Niki memeluk Nata.
Sebuah
lagu berjudul “Akhirnya ku menemukanmu” melantun di udara dan menjadi saksi
kebahagiaan antara Niki dan Nata.
Akhirnya ku
menemukanmu
Saat hati ini mulai meragu
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Saat hati ini mulai meragu
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Akhirnya ku
menemukanmu
Saat hati ini mulai meragu
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Saat hati ini mulai meragu
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh


10.25
reginacintem

0 komentar:
Posting Komentar