Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Kamis, 16 Januari 2014

Menemukanmu

Menemukanmu
“Niki…. Nikiiii…” panggil seorang cowok diluar rumah dengan nada yang terdengar oleh Niki dari dalam rumah. Niki terkejut mendengar suara cowok itu, dan dalam hatinya berkata NATA.
“Nik, tuh temen lo nyariin. Gak sopan banget sih lalu lalang gitu.” Kata Dhani
“Siapa kak? Gak tahu, dia ke lapangan bulutangkis tuh.” Jawab Dhani ketus.
Niki keluar rumah dan berjalan menghampiri cowok yang dimaksud oleh Dhani.
“Niki sini” ajaknya.
“Duh ngapain sih lo Nat kerumah gue. Lagian lo tahu dari mana alamat rumah gue?” tanya Niki heran.
“Ya ampun, Niki. Gue tahu rumah lo itu dari Helena.” Senyumnya.
“Terus lo mau ngapain kesini?” tanya Niki ketus.
“Nik, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Gue selama ini sayang sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” Nata mengungkapkan isi hatinya pada Niki. Niki terkejut mendengarkan pernyataan rasa sayang dari Nata.
“Apaan sih, gue cuma anggep lo temen gue doang, gak lebih. Sekarang lebih baik, lo sekarang pulang aja ya. Gue capek mau istirahat.” Setelah mengatakan penolakannya, Niki kembali meninggalkan Nata mematung sendirian di lapangan bulutangkis.
Tokk.. tokk.. tokkk…
Suara ketukan pintu menghancurkan lamunan Niki malam hari yang dingin.
“Siapa?” tanya Niki dari balik kamar.
“Dek, ditunggu Mama sama Papa untuk makan malam.” Suara Kak Dhani terdengar dari luar kamar.
“Gue gak laper kak.” Katanya.
Malam itu Niki tidak merasakan lapar, entah mengapa sudah dua hari ini dia selalu mengingat nama Nata, sahabatnya semasa SD. Sudah sembilan tahun Niki lost contact dengan Nata. Semenjak pernyataan cinta itu, Nata tidak pernah kelihatan lagi dikelasnya. Teman-teman Nata memberitahu Niki kalau dia pindah sekolah karena Papanya ditugaskan di Medan, dan semenjak saat itu pula Niki merasakan arti kehilangan seorang sahabat. Tetapi ada satu penyesalan dalam dirinya, Niki belum meminta maaf pada Nata karena telah menolak cintanya. Niki saat itu sangat shock dan sangat berharap kalau Nata adalah satu-satunya sahabat yang bisa menjadi sahabat selamanya bukan cinta.
Dreet dreeet…
Ponsel Niki bergetar dan dilihatnya pada layar ponsel tertera nama Anna. Tanpa berpikir panjang Niki langsung menjawab telepon dari Anna.
“Hallo, An.” Sapa Niki.
“Nik, malam ini lo gak lupa kan siaran?” tanya Anna diujung telepon sana.
“Astaga, Gue lupa!” Niki menepuk jidatnya.
“Aduh Niki, buruan ya. Gue udah mau off nih.”
“Iya iya.” Niki mematikan teleponnya dan langsung pamit pada Mama Papa dan Kak Dhani.
Niki saat ini sedang sibuk dengan skripsinya, namun untuk mengisi waktu luang Niki mencoba untuk kerja part-time sebagai penyiar di salah satu radio di kampusnya.
***
Ketika Niki sampai di area kampus, terlihat mobil Anna masih ada di area parkir kampus. Tanpa berpikir panjang lagi, Niki berjalan dan langsung memasuki stasiun radio kesayangan mahasiswa di kampusnya. Niki melihat Anna sedang membaca majalah-majalah yang biasanya selalu disiapkan oleh Redaksi Radio.
“An, lo belum pulang?” sapa Niki pada Anna.
“Gimana gue mau pulang kalau lo belum keliatan batang hidungnya, Niki sayang.” Jawab Anna dengan senyuman. Anna selalu memberikan senyuman ketika sedang kesal sekali pun, dia adalah sahabat yang terbaik, tidak pernah marah dan selalu dewasa.
Sorry sorry…. Gue tadi kelupaan, besok gue traktir ice cream deh.” Bujuk Niki sebagai permohonan maaf.
“Emang lo kenapa sih. Nik?” tanya Anna sebagai tanda perhatian pada Niki.
“Ya gitu deh…” jawab Niki sekenanya.
“Ya udah lo siaran dulu gih, gue tunggu di luar ya?” Anna mempersilakan Niki untuk membuka siaran di malam hari.
Seperti biasa Niki menyapa pendengar setia radio kampusnya, “Hai selamat malam sobat muda, kembali lagi malam yang penuh cinta ini ditemani oleh Niki. Gimana nih kabar sobat muda? Semoga baik-baik aja ya. Buat sobat muda yang mau kirim-kirim salam atau request lagu favorite boleh kok, yuk langsung aja kirim smsnya ke no 081257xxxxxx bisa juga via twitter di @radiosukampus atau via LINE searching aja ID kita @radiosukampus. Nah, sekarang Niki puterin dulu ya beberapa lagu untuk sobat muda, so stay tuned.” Niki sangat mencintai pekerjaan ini, dari dulu dia sangat ingin menjadi penyiar radio tetapi Mama dan Papa tidak mengijinkan Niki untuk mengambil jurusan komunikasi, oleh karena itu Niki mengikuti permintaan Mama dan Papanya untuk mengambil program studi Psikologi. Buat Niki kebahagiaan orangtua jauh lebih penting dari dirinya. Niki meninggalkan meja siarannya dan menemui Anna.
“Annaaaaaa…” Niki merengek-rengek di depan Anna.
“Lo kenapa, Nik? Ada yang nyakiti perasaan lo? Siapa-siapa? Oliver?” tanya Anna panik. Oliver adalah pacar Niki saat ini, yang super protektif dan membenci perkerjaan Niki sebagai penyiar radio kampusnya. Jelas, Niki adalah primadona kampus, selain pintar dia juga ramah pada semua teman-temannya, termasuk karyawan di kampusnya.
“Bukan. Huhuhu…” sedihnya.
“Terus?” tanya Anna bingung.
Niki menceritakan kenangan bersama dengan Nata sahabatnya masa SD tersebut kepada Anna. Anna dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Niki, Anna hanya memeluknya dan membiarkan Niki bercerita tentang semua yang sedang dirasakannya saat ini.
“Nik, lo tenang ya. Lo pasti ketemu lagi sama Nata. Percaya sama gue.” Anna meyakinkan pada Niki.
“Makasih ya, An. Lo emang sahabat terbaik gue.” Ucap Niki.
“Sama-sama Nik. Ya udah lo siaran lagi gih, gue tungguin lo sampai selesai siaran deh, gak tega kalau ninggalin lo sendirian.”
“Makasih banyak An. Tapi An, gue bingung malam ini mau bahas tentang apa? Jujur gue belum siap apa-apa.” Niki panik karena belum menyiapkan bahan materi untuk siaran malem ini.
“Hm… duh.. apa ya Nik. Gue juga bingung.” Anna mencari-cari ide. “AHA! Kalau lo gak keberatan sih, gimana kalau kisah lo ini dijadikan bahan materi aja, gimana?” tanyanya.
“Tapi kan…..”
“Katanya mau ketemu sama Nata, gak ada salahnya kan lo membuka cerita tentang kisah lo itu? Siapa tahu nih ya, Nata lagi di Jakarta terus dengerin radio.”  Jelas Anna.
“Tapi kan…”
“Udah ah, Nik. Gak ada tapi-tapian. You can try it!”
“Oke.”
***
Sudah hari kedua setelah siaran tersebut, Niki semakin berharap kalau dia dapat bertemu kembali dengan Nata. Dia percaya bahwa suatu saat akan menemukan Nata sahabatnya. Niki kembali memasuki area radio kampusnya, namun ada seorang yang menepuk pundaknya.
“Hai… sorry mau tanya, Ruang Dosen Fakultas Farmasi dimana ya?” tanya seorang cowok berkacamata dengan postur tubuh yang seperti atletit.
“Tinggal lurus aja, mentok belok kiri. Disana ada ruangan Sekretariat Farmasi, kamu masuk aja, terus tanya deh sama karyawan disana.” Jelas Niki.
“Ok makasih.” Jawab cowok itu dengan senyuman. Niki meninggalkan cowok itu mematung sendirian di area radio kampus, ketika Niki ingin masuk keruangan tiba-tiba cowok itu memanggilnya lagi.
“Maaf… maaf…. Lo penyiar radio kampus ini ya?” tanya cowok itu.
“Iya, kenapa?” tanya Niki heran.
“Gak apa-apa kok. Gue baru pertama kali dateng ke Jakarta lagi setelah beberapa tahun gak tinggal disini, terus semalem baru sampai Jakarta dengerin radio kampus ini, keren juga ya. Suara penyiarnya juga lembut.” Cerita cowok di depan Niki.
“Oh, lo pendatang. Mau oper kuliah disini atau gimana?” tanya Niki menghiraukan pujiannya terhadap radio kampusnya.
“Engga kok. Papa Dosen Farmasi.” Jawabnya.
“Oh oke. Gue masuk dulu ya, mau siaran.” Pamit Niki.
“Oh iya silakan.” Cowok berkacamata ini mempersilakan Niki untuk masuk, namun ada suara cowok memanggil nama Niki.
“Niki…” Niki kembali keluar ruangan dan melihat siapa yang memanggil namanya, dia melihat ada Oliver dan cowok berkacamata. Cowok ini diam dan menerka-nerka nama yang tadi disebut oleh pacarnya cewek ini.
“Ada apa?” tanya Niki enggan.
“Kita jalan yuk? Kamu udah gak ada kelas kan?” tanya Oliver.
“Sorry Oliver, aku harus siaran sekarang. Aku nanti malem gak bisa siaran karena besok ada ujian jadi tukeran sama temanku. Maaf ya.”
“Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu yang gak jelas ini ya.”
“Apa kamu bilang, gak jelas? Aku cinta dengan pekerjaan ini. Ya udah kalau kamu gak suka dengan pekerjaan aku lebih baik kita putus aja, aku capek sama kamu. Gak pernah ngertiin dan menghargai pekerjaan aku.” Niki memutuskan untuk mengatakan hal tersebut. Cowok berkacamata dari tadi mendengarkan pertengkaran antara Niki dan Oliver.
“Gak bisa gitu dong Nik.” Tangan Niki digenggam erat oleh Oliver.
“Lepasin tangan aku Oliver, sakit.” Niki berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Oliver, namun Oliver cukup kuat untuk menggenggam tangannya.
“Aku bilang lepasin, kita udah putus.” Suara Niki mulai meninggi.
“Aku gak akan lepasin tangan kamu sebelum kamu terima tawaran pergi aku.” Oliver tetap keukeuh.
“Kita udah putus. Lepasin tanganku.” Genggaman Oliver semakin erat, cowok berkacamata itu tidak tega melihat cewek diperlakukan seperti itu oleh seorang cowok. Tanpa berpikir panjang cowok berkacamata turun tangan “Mas maaf, tolong lepasin tangan ceweknya. Jadi cowok gak boleh kasar sama cewek.” Oliver yang sedang emosi ditambah emosi dengan perkataan cowok berkacamata ini dan pukulan mendarat dipipi cowok tersebut. Cowok berkacamata yang gagah ini terjatuh dan Oliver memukulnya tiada henti. Niki mencoba untuk melerainya, kemudian Oliver pergi meninggalkan mereka berdua. Niki mencoba membangunkan cowok yang dari tadi dipukul oleh Oliver tanpa melawannya dan membawa masuk ke ruangan radio.
“Lukanya gue bersihin dulu ya.” Niki mencoba untuk membersihkan luka-luka yang ada pada wajah cowok ini, dan dia melihat ada tanda lahir di pelipisnya. “Nata.” Ucapnya tanpa sadar.
“Lo kok tau nama gue?” tanyanya heran. Niki hanya terdiam membisu dan berhenti membersikan luka-luka diwajah cowok yang mengaku sebagai Nata.
“Hei kok lo tau nama gue?” cowok ini kembali mengulang pertanyaannya.
“Lo beneran Nata?” tanya Niki.
“Iya gue, Nata.” Jelas Nata.
“Gue… gue… gue… Niki, Nat. Lo masih inget gue gak?” tanya Niki gugup.
“Niki? Niki siapa ya?” Nata tersenyum.
“Niki yang dulu….. ah ya udah lah mungkin lo bukan Nata yang gue cari.” Niki memalingkan wajah, dan wajah Niki berubah yang tadinya ceria menjadi sedih.
“Niki yang dulu nolak cinta gue?” ucap Nata meledeknya.
“Lo beneran Nata kan?” tanyanya memastikan.
“Iya.” Nata kembali memberikan senyum yang khas untuk Niki.
“Nataaaaaa……” Niki memeluk Nata.
Sebuah lagu berjudul “Akhirnya ku menemukanmu” melantun di udara dan menjadi saksi kebahagiaan antara Niki dan Nata.
Akhirnya ku menemukanmu 
Saat hati ini mulai meragu 
Akhirnya ku menemukanmu 
Saat raga ini ingin berlabuh 
Ku berharap engkau lah 
Jawaban sgala risau hatiku 
Dan biarkan diriku 
Mencintaimu hingga ujung usiaku 

Jika nanti ku sanding dirimu 
Miliki aku dengan segala kelemahanku 
Dan bila nanti engkau di sampingku 
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Akhirnya ku menemukanmu 
Saat hati ini mulai meragu 
Akhirnya ku menemukanmu 
Saat raga ini ingin berlabuh 


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer