AIR
“Kamu seperti air yang membuat
ketenangan”
“Kamu seperti air yang membuat kisah
hidup.”
“Biarkan aku menjadi air dalam
hidupmu.”
Suara
gemercik air membuat ketenangan ketika aku mendengarkannya, merdu. Air itu
mengalir begitu saja melewati gorong-gorong dan terus mengalir tanpa henti
sampai dia menemukan titik yang tepat untuk berkumpul bersama. Bersama
menikmati luasnya tempat terindah untuk mereka. Tetapi sering kali gemercik air
mampu menyadarkan kisah hidup seseorang yang tidak selalu indah, bertolak
belakang seperti layaknya air yang menemukan tempat terindahnya, berkumpul
bersama kawanan air seisi lautan luas.
Tania
seorang gadis remaja yang sangat mencintai air, semasa kecilnya dia selalu
mengikuti arah air untuk menemukan titik pemberhentian terakhirnya, sampai saat
ini Tania selalu mencuri-curi waktu untuk melihat air, mendengarkan suaranya,
dan mengikuti titik terakhir air tersebut berhenti.
Fali
seorang cowok remaja yang mempunyai postur tubuh tinggi dan kulit yang sawo
matang kecokelatan, Fali blesteran Papua-Portugal. Dia adalah satu-satunya
cowok terpopuler dikampus Tania. Semua mata cewek tertuju pada Fali, tidak mau
munafik begitupun Tania yang mengaguminya. Iya, cukup mengaguminya, dan mudah-mudahan
tidak lebih. Fali sering memergoki Tania untuk kebelakang kampus untuk melihat
air, dan menurut Fali cewek yang dipergokinya ini, aneh.
Fali
dan Tania teman satu kelas, dan nomor absen mereka berdekatan. Tak dapat
disalahkan, kalau mereka selalu satu kelompok bekerja, jika keduanya
mendapatkan tugas kelompok dari dosen, tidak heran teman-teman sekelas terutama
cewek, sangat cemburu kepada Tania, kalau Fali selalu satu kelompok dengan
Tania. Tapi itu semua bisa teratasi karena semua dosen menganggap itu sudah
adil.
***
Mata
kuliah jam terakhir itu adalah hal yang paling terindah untuk semua Mahasiswa,
karena bagi mereka itu adalah surga. Iya, surga telah melewati rintangan tugas,
ujian di masing-masing kelas, dan satu hal yang terpenting, dosen killer.
Sepulang kuliah biasanya Tania selalu menyapa teman-teman dan sedikit ngobrol
tentang tugas, ujian, rencana sebulan kedepan, dan hal yang tidak penting pun
biasanya dibicarakan oleh Tania dengan teman-teman. “Tania, hari ini kita kerja kelompok lagi
kan?” Fali tiba-tiba sudah ada disamping Tania, entah datang sejak kapan. Semua
mata mulai tertuju pada suara yang tadi menyebut nama Tania, dan kata-kata
berlebihan muncul dari teman-teman yang sedang lewat depan mereka, “CIEEEEE”.
Entah kenapa, aura wajahku mulai berubah seketika, merah merona. “Tan, wajah kamu
tuh” bisik Ajeng, teman dekat Tania. “Kenapa muka aku?” balik berbisik.
“Merah-merah gitu.” Bisiknya lagi. Fali tidak memperdulikan teman-temannya yang
selalu menjailinya ketika sedang berbicara dengan Tania. “Oh iya, kamu dateng
aja ke kosku ya.” Balas Tania pada Fali. Fali hanya mengangguk dan meninggalkan
Tania dan teman-temannya. “Cie, Fali mau main ke kosan Tania lho.” Teriak salah
satu teman cowok. Tania dan Ajeng segera meninggalkan kerumunan teman-temannya.
“Aku
perhatikan si Fali naksir kamu ya, Tan.” Ucap Ajeng sambil berjalan menuju
parkiran motor.
“Ah,
perasaanmu saja. Gak mungkin Fali suka sama aku, dia udah punya pacar.” Jawab
Tania.
“Kok
kamu tau dia udah punya pacar?” tanya Ajeng heran.
“Iya,
dia pernah cerita katanya udah punya pacar, dan pacarnya kuliah di Semarang.”
Cerita Tania.
“Ya
ampun, Tania. Siapa tau Fali putus terus jadian sama kamu.”
“Ngaco,
ah. Gak mungkin!”
“Di
dunia ini gak ada yang gak mungkin, kalau beneran terjadi gimana?”
“Kalau
aku jadian sama Fali, seisi kampus bisa heboh dan mukulin aku kali. Udah ah
cabut yuk.” Tania mengajak Ajeng untuk pulang ke kos. Namun dalam perjalanan
pulang, dia hanya memikirkan perkataan Ajeng, temannya.
***
Air….
Iya
air yang Tania butuhkan sekarang, hatinya resah tidak karuan karena omongan
Ajeng yang membuatnya memikirkan hal tersebut. Mungkinkah rasa ini tidak
sekedar rasa kagum pada seorang cowok populer di kampusnya? Mungkinkah rasa ini
lebih dari perasaan kagum? Biarkan rasa ini seperti air yang mengalir sehingga
menemukan titik akhirnya.
Terdengar
suara motor gede mengeluarkan suara dari dalam kenalpotnya, sudah bisa Tania
tebak, pasti Fali. Tania langsung keluar dari dalam kamarnya, dan menyuruh Fali
untuk memarkiran motornya di parkiran kosan saja. Setelah Fali memarkirkan motor,
dia mengikuti Tania dari belakang menuju ruang belajar. Di kosan ini terdapat
ruang tamu, dapur, parkiran motor yang
lumayan luas, dan ruang belajar. Bukan berarti dalam kamar Tania tidak ada
ruang belajar, tentu ada, tetapi khusus untuk Tania. Ruang belajar biasanya
dipakai untuk belajar kelompok dan teman-teman cowok diijinkan untuk masuk
dalam ruangan tersebut. Tania mulai
membuka lembaran buku catatannya dan mulai mengerjakan tugas bersama Fali,
hanya ada keheningan dan sesekali berdiskusi untuk menanyakan pendapat dalam
kasus tugas yang sedang mereka kerjakan. Tania merasakan tubuh Fali semakin
mendekat ketika menjelaskan kasus yang kurang dia pahami, sedikit Fali
mencoret-coret buku catatan Tania untuk menjelaskan kasus tersebut agar Tania
mengerti maksud kasus tugasnya ini, tanpa dia sadari jantungnya berdegup dengan
kencang. Dia berharap Fali tidak bisa mendengarkan detak jantungnya berdetak
dengan kencang. Tania mulai menjaga jarak dan memundurkan tubuhnya, Fali
menyadari bahwa tubuhnya sangat dekat dengan Tania, akhirnya Fali menjaga jarak
dengan salah tingkah, begitupun dengan Tania.
“Udah
makan?” tanya Fali menghancurkan sikap salah tingkahnya.
“Ehm..mm..be..
bel..um. Kamu?” jawab Tania gugup.
“Makan
yuk, aku juga belum makan.” Ajak Fali tersenyum. Tania hanya membalas dengan
anggukan.
Sepanjang
makan malam, Fali membuat suasana mencari dengan canda, tawa, dan cerita-cerita
yang unik darinya. Tania hanya menjadi pendengar untuknya, nyaman, itu yang
dirasakan oleh Tania saat ini. Fali mampu membuat situasi yang tadinya kaku,
menjadi cair seperti air. Tania merasakan kebahagiaan.
***
Beberapa
hari setelah kejadian malam terindah penuh kebahagiaan itu, Tania menyadari
bahwa rasa itu bukan sekedar rasa kagum pada cowok populer di kampusnya, melainkan
rasa yang disebut CINTA. Sesuatu yang sudah lama tidak pernah Tania rasakan,
kini dia merasakannya kembali. Tapi Tania juga sadar bahwa cinta yang dia
miliki, hanya cinta yang tidak dapat dibalas oleh orang yang dia cintai.
Mengingat bahwa Fali sudah memiliki pacar, walaupun Ajeng mengatakan bahwa Fali
bisa saja putus, tapi Tania mempunyai persepsi yang berbeda dari temannya, Fali
pasti setia dengan pacarnya dan tidak mungkin akan meninggalkan pacarnya.
“Hai
Tania, kantin yuk?” ajak Fali yang selalu mengejutkan Tania.
“Hmmm…
aku mau ke kantin sama Ajeng.” balas Tania memandang wajah Ajeng.
“Cieeee
yaudah kalian aja ke kantin, aku sama Berto aja deh.” ucap Ajeng sambil
mencari-cari batang hidung Berto, pacarnya.
“Bareng
aja ke kantinnya.” ajak Tania sambil menggandeng tangan Ajeng.
“Gak
ah, aku mau sama Berto aja.” tolak Ajeng.
“Please…” mohon Tania. Tetapi Ajeng
menghiraukan ajakan Tania dan langsung meninggalkan Tania dan Fali. Wajah Tania
mulai murung dan tidak ada pilihan karena cacing dalam perut sudah bersuara
dengan merdu, akhirnya dia menerima tawaran Fali. “Yaudah aku terima tawaranmu,
Fal.” Fali tersenyum senang.
Fali
merangkul pundak Tania. ‘Apa Fali rangkul
pundak aku?!’ Tania merasakan terbang ke angkasa dan menari-nari bersama
burung ketika tangan Fali merangkul pundaknya. Semua mata mahasiswa tertuju
pada Fali dan Tania, ada yang berbisik-bisik mengatakan bahwa Fali dan Tania
pacaran, dan hanya mengatakan kata “CIEEEE” entah kata “cie” bagian dari kata
cemburu atau memang mereka mempunyai hobi mengatakan kata “cie”. Dua kalinya
Tania merasakan, nyaman.
***
Malam
yang dingin dan ditemani oleh suara gemercik air dari kolam ikan yang dimiliki
Tania, dia menekan tombol nomor ponsel Ajeng. Ketika suara Ajeng terdengar dari
balik teleponnya, mulailah sesi curhat antara dua teman yang saling menyayangi.
“Ajeng,
aku udah menemukan AIR dalam hidupku.” ucap Tania pada Ajeng yang spontan tidak
mengerti maksud kata ‘AIR’ yang dikatakan oleh temannya ini. “Maksudnya AIR apa
ya, Tan?”
“Iya,
AIR itu Fali. Rasa itu mengalir begitu saja seperti air.” kata Tania, namun
lawan bicara masih tidak mengerti dengan topik pembicaraan Tania. “Duh, Tania.
Aku engga ngerti maksudmu.”
“AJENG!
Aku suka sama Fali, dan rasa ini bukan sekedar kagum. Tapi S-A-Y-A-N-G!” jelas Tania,
sambil mengeja tulisan kata sayang. “Aku nyaman banget dekat dengan dia. Gimana
dong ini?” tanya Tania pada temannya tentang rasa yang sedang dia alami.
“Hahahahaha…….
Akhirnya terjebak dalam kekaguman yang berubah jadi sayang.” tawa riang Ajeng
mendengarkan penjelasan dari Tania.
“Kok
kamu malah ketawa sih, aku harus gimana nih? Dia kan udah punya pacar.”
“Ya
ampun, itu baru pacar. Pacar bisa putus, Tan.”
“Ih
kamu doanya jahat nih, gak pokoknya aku harus buang rasa sayang aku sama dia.”
“Buang
rasa sayang kesiapa?” suara cowok terdengar ditelinga Tania, dan dia aneh
mendengar ada suara cowok dari obrolan dia dengan Ajeng. Namun dia masih fokus
dengan ponsel, obrolannya dengan Ajeng.
“Jeng,
di kamar kamu ada cowok ya? Kok aku dengar suara cowok ya?” heran Tania
“Gak
ada, Tan. Aku sendirian nih.” Balas Ajeng dari balik telepon. Spontan Tania
langsung membalikan badan dan terkejut melihat Fali sudah berdiri di depan
pintu kos Tania, dan dia dengan reflex
mematikan teleponnya.
“Sejak
kapan kamu di depan kos ku?” tanya Tania terkejut dan heran.
“Baru
aja kok.” senyum Fali.
Tania
menjadi salah tingkah, dia takut Fali mendengarkan obrolannya dengan Ajeng di
telepon. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Fali.
“Kamu
ngapain kesini?” heran Tania.
“Aku
cuma mau main aja, bosen di kosan.” jelasnya.
Fali
mengajak Tania untuk menikmati udara malam di kota Yogyakarta. Cowok bertubuh
sawo matang kecokelatan ini menyuruh Tania untuk megang pinggang Fali, untuk
keamanan. Untuk ketiga kalinya Tania mengatakan bahwa dirinya, nyaman dan
tenang.
***
Hari
demi hari pertemanan Tania dan Fali semakin dekat, selama masa ujian akhir
semsester Fali sering belajar bersama dengan Tania, baik di Perpustakaan maupun
dikosan Tania, kadang Ajeng ikut belajar bersama namun sering kali Ajeng absen
tidak hadir. Besok sudah masuk dalam liburan semester dimana mahasiswa akan
pulang ke kampung halamannya masing-masing atau ada yang sibuk dengan kegiatan
organisasi di kampus. Tania, tidak ingin meninggalkan liburan ini dengan mengikuti
organisasi di kampus, dia harus pulang ke rumah bertemu dengan Mama, Papa, dan
Kak Christ.
“Tania,
kita gak ketemu deh selama liburan nanti. Pasti aku kangen deh sama kamu” sedih
Ajeng.
“Hahaha
lebay deh, Jeng. Kamu ikut aku ke Jakarta yuk?” ajak Tania. Kampung halaman
Ajeng di Surabaya sementara Tania di Jakarta, perbedaan jarak yang cukup jauh
antara utara dan selatan.
“Jauh,
Tania.” balas Ajeng. Tania hanya tersenyum melihat raut wajah temannya ini.
“Kalau
aku boleh gak ikut kamu ke Jakarta?” suara cowok yang sudah familiar kembali
terdengar di telinga Tania dan Ajeng. Seketika mereka langsung menoleh dan
melihat sosok cowok berdiri sambil membawa tas dan kunci motor ditangannya.
“Fali,
ngapain ke Jakarta?” tanya Tania heran.
“Main
aja hehehe.” jawab Fali tersenyum.
“Uhuk.”
Ajeng mengeluarkan batuk yang dibuat-buat. “Modus” celetuk Ajeng. Fali hanya
tersenyum jail.
“Oh
ya Tan, kamu pulang bareng siapa?” tanya Fali mengalihkan perkataan Ajeng.
“Aku
bawa motor sendiri kok.” jawabnnya.
“Duh,
Fali kamu tuh modus banget sih jadi cowok. Bilang aja langsung, ‘Tan, bareng
aku yuk pulangnya.’ Modus banget sih.” omel Ajeng.
“Apasih,
Ajeng. Norak ah.” cemberut Tania.
“Fali
kali yang norak hahaha.” Ajeng tak mau kalah dengan Tania.
Fali
sepertinya kalah dengan basa-basi yang sudah biasa, dan ajakannya pasti akan di
tolak oleh Tania.
“Hati-hati
ya, Tan.” kata Fali sambil mengelus-elus rambut Tania.
Tania
hanya tersenym dan rasanya seperti terbang ke angkasa untuk kedua kalinya. Fali
sudah tidak ada diantara Tania dan Ajeng. Tangan Ajeng dicengkram oleh Tania.
“AHHHHH AKU SENENG!”
“Ada
yang jatuh cinta nih.” ucap Ajeng. Tania hanya tersenyum bahagia.
***
Liburan
semester sudah terlewati dua minggu masih ada dua minggu lagi untuk
menikmatinya. Rasa kangen pada Ajeng dan Fali mulai muncul secara bersamaan
seperti air yang mengalir.
Dreet…dreet…
Getaran
ponsel Tania membujuknya untuk melihat isi pesan yang muncul di layar ponsel.
Tertera nama ‘Fali’.
Aku di Jakarta lho…. Ketemuan yuk.
–Fali-
Detak
jantungku berdegup dengan kencang, bahagia. Tanpa berpikir panjang Tania
langsung membalas pesan dari Fali.
Hah, ngapain? –Tania-
Dalam
hitungan detik, Fali membalas dengan cepat.
Main, ak tunggu di Jco ya. Sekarang J –Fali-
Dengan
senyuman bahagia Tania langsung meninggalkan rumahnya dan menuju tempat yang
dimaksud oleh Fali.
***
Mall
ini terlalu besar membuat Tania lelah berjalan menuju Jco. Disana sudah ada
sosok cowok yang sangat familiar oleh mata Tania. Duduk dan menikmati donat
khas Jco.
“Hai.”
sapa Tania.
“Hai…
Silakan duduk.” Fali mempersilakan Tania untuk duduk.
“Kamu
apa kabar?” tanya Fali basa-basi.
“Baik,
kamu?” balas Tania.
“Baik.”
singkatnya.
“Kamu
ngapain ke Jakarta?” tanya Tania heran.
“Pengen
ketemu sama kamu lah.” Fali langsung to
the point. Sementara Tania yang mendengarkan hanya terkejut dan diam tanpa
kata.
“Kenapa
kamu gak ke Semarang aja ketemu sama pacarmu?” tanyaku penasaran.
“Hehehe….
Kamu mau pesan apa?” Fali mengalihkan pembicaraan dan mulai mengajak Tania
untuk mendengarkannya cerita.
“Hmm…
sama aja deh.”
Dalam
pikiran Tania hanya ada pertanyaan ‘ngapain
kamu ke Jakarta? Pacarmu ada di Semarang kenapa gak kesana aja?’
***
Jakarta
pagi ini di genangi oleh air semenjak hujan yang menguyur semalaman, semakin
cepat air itu memenuhi sepanjang jalan ibu kota. Banjir ibu kota membuat
kepanikan warga Jakarta, sama seperti Tania, bedanya dia panik karena mulai
menyayangi Fali lebih dari teman atau sahabat.
‘Seharusnya aku gak
boleh sayang sama Fali, dia kan udah punya pacar. Lagi pula, Fali gak mungkin
suka sama aku. Dia cuma anggap aku temannya, sebatas teman. Udahlah Tania,
jangan banyak berharap. Perhatiannya hanya sebatas teman saja, tidak lebih. Ayo
Tania ini realitas, jangan kebanyakan ngayal’
Tania
selalu mengelak tentang perasaan yang ada dalam hatinya.
Dreet… Dreett…
“Fali
– lagi” celetuk Tania.
Tania lagi apa? Udah makan belum? Engga
kebanjiran kan rumahmu? –Fali-
Well,
Tania kembali merasakan getaran cinta dalam hatinya.
Lagi duduk aja, udah kok. Kamu? Enggak
kebanjiran kok. –Tania-
Aku juga udah. Syukurlah kalau gak
kebanjiran. Kamu hati-hati ya. J -Fali-
Iya makasih, Fal –Tania-
Sama-sama, Tan. –Fali-
Tania
tidak membalas pesan dari Fali, karena menurutnya sudah cukup untuk
perhatiannya.
***
Setiap
hari Fali semakin sering mengirimkan pesan-pesan singkat yang menunjukkan
perhatiannya dan sekali-kali kata-kata mesra muncul pada pesan singkat
tersebut. Terkadang Tania berpikir, apa dia yang terlalu ke-geer-an karena sikap Fali yang terlalu
perhatian atau Fali yang terlalu memberikan harapan palsu pada Tania.
Liburan
sudah selesai dan saat ini Tania sudah kembali ke rutinitas awal untuk mengejar
cita-cita. Dia tidak sabar untuk cerita pada Ajeng tentang kejadian di Jakarta.
Mata Tania mencari-cari batang hidung Ajeng tetapi tidak menemukan orang yang
sedang dia cari.
“Cieee
Tania, liburan ketemuan sama Fali ya di Jakarta. Cieeeee….” goda Berto, pacar
Ajeng.
“Ciee
Tania, di samperin sama Fali.” timpal Juan.
Tania
bingung dengan pernyataan teman-teman, itu bukan gossip tapi kenyataan. Tapi
mereka tahu darimana ya? Bukankah hanya Tania dan Fali saja yang mengetahui
tentang ini, bahkan Tania saja belum cerita pada Ajeng. Mungkinkah Fali yang
cerita ini semua?
Tania
melihat cowok blesteran Papua-Portugal sedang berbicara dengan teman-temannya. Tak
segan Tania menghampirinya “Sorry,
aku boleh bicara dengan kamu, Fal?” tanya Tania tanpa ingin mengganggu obrolan
Fali dengan teman-temannya. “Oh, boleh-boleh.” Fali mengangguk dan keluar dari
kerumunan teman-temannya. “Ciee Tania, kangen ya sama Fali. Kan udah ketemu
sama Fali di Jakarta, masih kangen aja sih.” goda Juan. “Apaan sih.” cetus
Tania.
“Ada
apa ya?” tanya Fali heran.
“Kok
teman-teman bisa tau ya kita ketemuan di Jakarta? Kamu ngasih tau ke mereka?”
tanya Tania sedikit menahan emosi.
“Oh
itu, iya aku cerita aja ke mereka. Soalnya mereka tanya aku kemana aja liburan,
lalu aku cerita ke Jakarta ketemu sama kamu. Salah ya?” cerita Fali.
Tania
menjadi salah tingkah, seharusnya dia tidak bersikap seperti itu. Iya, Fali
tidak salah cerita pada mereka. Tapi, situasinya yang salah untuk cerita
tentang pertemuan ini ke teman-teman.
“TANIAAAA!!!!”
teriak suara cewek yang membuat mata Tania segera menoleh kearah suara
tersebut, dan cewek ini langsung berlari mendekati Tania. Dia menjatuhkan
pelukan pada Tania. “Aku kangen banget sama kamu. Kamu baik-baik aja kan? Ke
kantin yuk, cerita-cerita tentang liburan kemarin.” ajak Ajeng sambil menarik
tangan Tania. Tania patut bersyukur atas penyelamatan ini.
Sepanjang
makan di kantin, Tania menceritakan kejadian liburan di Jakarta terutama cerita
tentang pertemuan dia dengan Fali. Ajeng terkejut dengan cerita pertemuan Fali
ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan Tania. Temannya mulai memikirkan maksud
dibalik perhatian Fali pada Tania.
***
Malam
ini sepertinya penuh dengan pertanyaan dalam pikiran Tania, dia bingung dengan
perasaannya dan semakin tidak menentu. Tania mulai menekan nomor ponsel Ajeng.
Tuttt….tuuttt…
“Hallo….”
jawab Ajeng.
“Ajeng….”
sapanya.
“Kenapa,
Tan? Baik-baik aja kan?” tanya Ajeng khawatir.
“Aku
lagi bingung, aku bener-bener suka sama Fali nih. Salah gak sih kalau aku
bilang sama dia, ‘aku sayang kamu, Fal’?”
tanya Tania meminta saran.
“Kamu
beneran sayang sama Fali ya, Tan?” tanya Ajeng hati-hati.
“Iya,
Jeng. Rasa sayang aku ke dia tuh kaya air yang mengalir begitu saja, tanpa aku
duga kapan aku mulai sayang sama dia. Aku nyaman, dan tenang kalau didekat
dia.” ceritanya.
“Sebenarnya
gak ada salahnya sih, kamu nyatain perasaan ke Fali. Tapi kamu udah tau kan
kalau Fali udah punya pacar?” jelasnya hati-hati.
“Iya
aku tau kok, tapi aku pengen kasih tau dia aja kalau aku sayang sama dia lebih
dari teman atau sahabat.” ucap Tania.
“Siap
tanggung resiko ya, Tan?” tanya Ajeng.
“Siap.”
singkat Tania.
***
Hari
ini semuanya harus Tania katakan, apapun balasan dari Fali, dia harus siap
menanggung itu semua, ini semua resiko. Tania mulai mengetik pesan singkat
untuk Fali, tangannya gemetaran saat menekan keyword di ponselnya.
Fal, aku tunggu di taman kolam ya.
–Tania-
Setelah
menunggu satu menit, Fali membalas pesan dari Tania.
Wah kebetulan aku lagi disekitar taman
kolam nih. Oke aku kesana ya. –Fali-
Dua
menit Tania menunggu tiba-tiba cowok yang ditunggu-tunggu sudah berdiri di
depannya. Sekejap Tania mengatur nafasnya agar terlihat lebih santai.
“Ada
apa Tan?” tanya Fali dengan senyuman.
“Ada
yang mau aku omongin.” ucapnya.
“Oh
yaudah katakan saja.” Fali mempersilakan.
“Ehmm….
Sebenarnya selama ini aku itu ….. hmmm….” Suara cewek yang sangat tidak
familiar tiba-tiba memanggil nama Fali. “FALI!” teriaknya.
Fali
dan Tania menoleh kearah suara berasal, mereka menemukan cewek langsing
berambut panjang dan berkulit putih mengenakan baju bermotif bunga-bunga dan
jeans berwarna biru menghampiri Fali dan Tania. Fali tersenyum pada cewek yang memanggil
namanya.
“Hei.”
sapa Fali dengan senyuman.
“Kamu
belum pulang?” tanya cewek disamping Fali.
“Iya
tadi ada urusan sebentar sama temanku.” balasnya pada cewek langsing ini, dan
menunjuk ‘teman’ ke arah Tania. Cewek itu hanya mengangguk dan melemparkan
senyuman pada Tania, dia membalas dengan senyuman. “Oh ya Tan, kenalin ini
pacar aku namanya Fia, dia lagi liburan disini, oh ya, rencananya setelah Natal
kita akan tunangan. Maklum udah kelamaan pacaran, biar ada ikatan yang
menyatukan kita harus ada tunangan hehhehe. Kenalin sayang ini Tania teman
aku.” jelas Fali. Fia mengulurkan tangan, namun Tania masih terkejut dengan
pernyataan Fali yang barusan keluar dari mulutnya. Percikan air menyentuh wajah
Tania, seakan air ingin mengatakan bahwa mulai hari ini Tania harus sadar
dengan sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa Fali bukan miliknya. “Tania….. Tania…”
panggil Fali. “Sorry, hmm aku Tania.” balas uluran tangan Fia.
“Duh
aku harus pulang duluan nih, sorry
ya.” Tania melirik jam ditangannya, dan berlari meninggalkan Fali dan Fia.
***
Semalaman
Tania sudah menangis mengingat akan kejadian di kampusnya, dan pernyataan yang
dikatakan oleh Fali. Bukan menolak, tetapi memberitahu bahwa dia dan pacarnya
akan segera tunangan. Ini kenyataan, bukan dunia dongeng dan sudah seharusnya
cerita ini berakhir seperti ini.
Air
yang mampu menenangkan hati Tania, dia juga mampu menyadarkannya akan sebuah
kenyataan yang harus dia hadapi di dalam kisah hidupnya.
“Biarlah air terus
mengalir dengan sendirinya, dan membuat cerita yang baru dalam kisah hidupnya,
denganku atau tanpa aku.”
Salam Penulis,
Regina Krisna Santi / @reginacintem


09.51
reginacintem

0 komentar:
Posting Komentar