Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Sabtu, 22 Februari 2014

AIR

AIR

“Kamu seperti air yang membuat ketenangan”
“Kamu seperti air yang membuat kisah hidup.”
“Biarkan aku menjadi air dalam hidupmu.”

Suara gemercik air membuat ketenangan ketika aku mendengarkannya, merdu. Air itu mengalir begitu saja melewati gorong-gorong dan terus mengalir tanpa henti sampai dia menemukan titik yang tepat untuk berkumpul bersama. Bersama menikmati luasnya tempat terindah untuk mereka. Tetapi sering kali gemercik air mampu menyadarkan kisah hidup seseorang yang tidak selalu indah, bertolak belakang seperti layaknya air yang menemukan tempat terindahnya, berkumpul bersama kawanan air seisi lautan luas.
Tania seorang gadis remaja yang sangat mencintai air, semasa kecilnya dia selalu mengikuti arah air untuk menemukan titik pemberhentian terakhirnya, sampai saat ini Tania selalu mencuri-curi waktu untuk melihat air, mendengarkan suaranya, dan mengikuti titik terakhir air tersebut berhenti.
Fali seorang cowok remaja yang mempunyai postur tubuh tinggi dan kulit yang sawo matang kecokelatan, Fali blesteran Papua-Portugal. Dia adalah satu-satunya cowok terpopuler dikampus Tania. Semua mata cewek tertuju pada Fali, tidak mau munafik begitupun Tania yang mengaguminya. Iya, cukup mengaguminya, dan mudah-mudahan tidak lebih. Fali sering memergoki Tania untuk kebelakang kampus untuk melihat air, dan menurut Fali cewek yang dipergokinya ini, aneh.
Fali dan Tania teman satu kelas, dan nomor absen mereka berdekatan. Tak dapat disalahkan, kalau mereka selalu satu kelompok bekerja, jika keduanya mendapatkan tugas kelompok dari dosen, tidak heran teman-teman sekelas terutama cewek, sangat cemburu kepada Tania, kalau Fali selalu satu kelompok dengan Tania. Tapi itu semua bisa teratasi karena semua dosen menganggap itu sudah adil.
***
Mata kuliah jam terakhir itu adalah hal yang paling terindah untuk semua Mahasiswa, karena bagi mereka itu adalah surga. Iya, surga telah melewati rintangan tugas, ujian di masing-masing kelas, dan satu hal yang terpenting, dosen killer. Sepulang kuliah biasanya Tania selalu menyapa teman-teman dan sedikit ngobrol tentang tugas, ujian, rencana sebulan kedepan, dan hal yang tidak penting pun biasanya dibicarakan oleh Tania dengan teman-teman.  “Tania, hari ini kita kerja kelompok lagi kan?” Fali tiba-tiba sudah ada disamping Tania, entah datang sejak kapan. Semua mata mulai tertuju pada suara yang tadi menyebut nama Tania, dan kata-kata berlebihan muncul dari teman-teman yang sedang lewat depan mereka, “CIEEEEE”. Entah kenapa, aura wajahku mulai berubah seketika, merah merona. “Tan, wajah kamu tuh” bisik Ajeng, teman dekat Tania. “Kenapa muka aku?” balik berbisik. “Merah-merah gitu.” Bisiknya lagi. Fali tidak memperdulikan teman-temannya yang selalu menjailinya ketika sedang berbicara dengan Tania. “Oh iya, kamu dateng aja ke kosku ya.” Balas Tania pada Fali. Fali hanya mengangguk dan meninggalkan Tania dan teman-temannya. “Cie, Fali mau main ke kosan Tania lho.” Teriak salah satu teman cowok. Tania dan Ajeng segera meninggalkan kerumunan teman-temannya.
“Aku perhatikan si Fali naksir kamu ya, Tan.” Ucap Ajeng sambil berjalan menuju parkiran motor.
“Ah, perasaanmu saja. Gak mungkin Fali suka sama aku, dia udah punya pacar.” Jawab Tania.
“Kok kamu tau dia udah punya pacar?” tanya Ajeng heran.
“Iya, dia pernah cerita katanya udah punya pacar, dan pacarnya kuliah di Semarang.” Cerita Tania.
“Ya ampun, Tania. Siapa tau Fali putus terus jadian sama kamu.”
“Ngaco, ah. Gak mungkin!”
“Di dunia ini gak ada yang gak mungkin, kalau beneran terjadi gimana?”
“Kalau aku jadian sama Fali, seisi kampus bisa heboh dan mukulin aku kali. Udah ah cabut yuk.” Tania mengajak Ajeng untuk pulang ke kos. Namun dalam perjalanan pulang, dia hanya memikirkan perkataan Ajeng, temannya.
***
Air….
Iya air yang Tania butuhkan sekarang, hatinya resah tidak karuan karena omongan Ajeng yang membuatnya memikirkan hal tersebut. Mungkinkah rasa ini tidak sekedar rasa kagum pada seorang cowok populer di kampusnya? Mungkinkah rasa ini lebih dari perasaan kagum? Biarkan rasa ini seperti air yang mengalir sehingga menemukan titik akhirnya.
Terdengar suara motor gede mengeluarkan suara dari dalam kenalpotnya, sudah bisa Tania tebak, pasti Fali. Tania langsung keluar dari dalam kamarnya, dan menyuruh Fali untuk memarkiran motornya di parkiran kosan saja. Setelah Fali memarkirkan motor, dia mengikuti Tania dari belakang menuju ruang belajar. Di kosan ini terdapat ruang tamu,  dapur, parkiran motor yang lumayan luas, dan ruang belajar. Bukan berarti dalam kamar Tania tidak ada ruang belajar, tentu ada, tetapi khusus untuk Tania. Ruang belajar biasanya dipakai untuk belajar kelompok dan teman-teman cowok diijinkan untuk masuk dalam ruangan tersebut.  Tania mulai membuka lembaran buku catatannya dan mulai mengerjakan tugas bersama Fali, hanya ada keheningan dan sesekali berdiskusi untuk menanyakan pendapat dalam kasus tugas yang sedang mereka kerjakan. Tania merasakan tubuh Fali semakin mendekat ketika menjelaskan kasus yang kurang dia pahami, sedikit Fali mencoret-coret buku catatan Tania untuk menjelaskan kasus tersebut agar Tania mengerti maksud kasus tugasnya ini, tanpa dia sadari jantungnya berdegup dengan kencang. Dia berharap Fali tidak bisa mendengarkan detak jantungnya berdetak dengan kencang. Tania mulai menjaga jarak dan memundurkan tubuhnya, Fali menyadari bahwa tubuhnya sangat dekat dengan Tania, akhirnya Fali menjaga jarak dengan salah tingkah, begitupun dengan Tania.
“Udah makan?” tanya Fali menghancurkan sikap salah tingkahnya.
“Ehm..mm..be.. bel..um. Kamu?” jawab Tania gugup.
“Makan yuk, aku juga belum makan.” Ajak Fali tersenyum. Tania hanya membalas dengan anggukan.
Sepanjang makan malam, Fali membuat suasana mencari dengan canda, tawa, dan cerita-cerita yang unik darinya. Tania hanya menjadi pendengar untuknya, nyaman, itu yang dirasakan oleh Tania saat ini. Fali mampu membuat situasi yang tadinya kaku, menjadi cair seperti air. Tania merasakan kebahagiaan.
***
Beberapa hari setelah kejadian malam terindah penuh kebahagiaan itu, Tania menyadari bahwa rasa itu bukan sekedar rasa kagum pada cowok populer di kampusnya, melainkan rasa yang disebut CINTA. Sesuatu yang sudah lama tidak pernah Tania rasakan, kini dia merasakannya kembali. Tapi Tania juga sadar bahwa cinta yang dia miliki, hanya cinta yang tidak dapat dibalas oleh orang yang dia cintai. Mengingat bahwa Fali sudah memiliki pacar, walaupun Ajeng mengatakan bahwa Fali bisa saja putus, tapi Tania mempunyai persepsi yang berbeda dari temannya, Fali pasti setia dengan pacarnya dan tidak mungkin akan meninggalkan pacarnya.
“Hai Tania, kantin yuk?” ajak Fali yang selalu mengejutkan Tania.
“Hmmm… aku mau ke kantin sama Ajeng.” balas Tania memandang wajah Ajeng.
“Cieeee yaudah kalian aja ke kantin, aku sama Berto aja deh.” ucap Ajeng sambil mencari-cari batang hidung Berto, pacarnya.
“Bareng aja ke kantinnya.” ajak Tania sambil menggandeng tangan Ajeng.
“Gak ah, aku mau sama Berto aja.” tolak Ajeng.
Please…” mohon Tania. Tetapi Ajeng menghiraukan ajakan Tania dan langsung meninggalkan Tania dan Fali. Wajah Tania mulai murung dan tidak ada pilihan karena cacing dalam perut sudah bersuara dengan merdu, akhirnya dia menerima tawaran Fali. “Yaudah aku terima tawaranmu, Fal.” Fali tersenyum senang.
Fali merangkul pundak Tania. ‘Apa Fali rangkul pundak aku?!’ Tania merasakan terbang ke angkasa dan menari-nari bersama burung ketika tangan Fali merangkul pundaknya. Semua mata mahasiswa tertuju pada Fali dan Tania, ada yang berbisik-bisik mengatakan bahwa Fali dan Tania pacaran, dan hanya mengatakan kata “CIEEEE” entah kata “cie” bagian dari kata cemburu atau memang mereka mempunyai hobi mengatakan kata “cie”. Dua kalinya Tania merasakan, nyaman.
***
Malam yang dingin dan ditemani oleh suara gemercik air dari kolam ikan yang dimiliki Tania, dia menekan tombol nomor ponsel Ajeng. Ketika suara Ajeng terdengar dari balik teleponnya, mulailah sesi curhat antara dua teman yang saling menyayangi.
“Ajeng, aku udah menemukan AIR dalam hidupku.” ucap Tania pada Ajeng yang spontan tidak mengerti maksud kata ‘AIR’ yang dikatakan oleh temannya ini. “Maksudnya AIR apa ya, Tan?”
“Iya, AIR itu Fali. Rasa itu mengalir begitu saja seperti air.” kata Tania, namun lawan bicara masih tidak mengerti dengan topik pembicaraan Tania. “Duh, Tania. Aku engga ngerti maksudmu.”
“AJENG! Aku suka sama Fali, dan rasa ini bukan sekedar kagum. Tapi S-A-Y-A-N-G!” jelas Tania, sambil mengeja tulisan kata sayang. “Aku nyaman banget dekat dengan dia. Gimana dong ini?” tanya Tania pada temannya tentang rasa yang sedang dia alami.
“Hahahahaha……. Akhirnya terjebak dalam kekaguman yang berubah jadi sayang.” tawa riang Ajeng mendengarkan penjelasan dari Tania.
“Kok kamu malah ketawa sih, aku harus gimana nih? Dia kan udah punya pacar.”
“Ya ampun, itu baru pacar. Pacar bisa putus, Tan.”
“Ih kamu doanya jahat nih, gak pokoknya aku harus buang rasa sayang aku sama dia.”
“Buang rasa sayang kesiapa?” suara cowok terdengar ditelinga Tania, dan dia aneh mendengar ada suara cowok dari obrolan dia dengan Ajeng. Namun dia masih fokus dengan ponsel, obrolannya dengan Ajeng.
“Jeng, di kamar kamu ada cowok ya? Kok aku dengar suara cowok ya?” heran Tania
“Gak ada, Tan. Aku sendirian nih.” Balas Ajeng dari balik telepon. Spontan Tania langsung membalikan badan dan terkejut melihat Fali sudah berdiri di depan pintu kos Tania, dan dia dengan reflex mematikan teleponnya.
“Sejak kapan kamu di depan kos ku?” tanya Tania terkejut dan heran.
“Baru aja kok.” senyum Fali.
Tania menjadi salah tingkah, dia takut Fali mendengarkan obrolannya dengan Ajeng di telepon. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Fali.
“Kamu ngapain kesini?” heran Tania.
“Aku cuma mau main aja, bosen di kosan.” jelasnya.
Fali mengajak Tania untuk menikmati udara malam di kota Yogyakarta. Cowok bertubuh sawo matang kecokelatan ini menyuruh Tania untuk megang pinggang Fali, untuk keamanan. Untuk ketiga kalinya Tania mengatakan bahwa dirinya, nyaman dan tenang.
***
Hari demi hari pertemanan Tania dan Fali semakin dekat, selama masa ujian akhir semsester Fali sering belajar bersama dengan Tania, baik di Perpustakaan maupun dikosan Tania, kadang Ajeng ikut belajar bersama namun sering kali Ajeng absen tidak hadir. Besok sudah masuk dalam liburan semester dimana mahasiswa akan pulang ke kampung halamannya masing-masing atau ada yang sibuk dengan kegiatan organisasi di kampus. Tania, tidak ingin meninggalkan liburan ini dengan mengikuti organisasi di kampus, dia harus pulang ke rumah bertemu dengan Mama, Papa, dan Kak Christ.
“Tania, kita gak ketemu deh selama liburan nanti. Pasti aku kangen deh sama kamu” sedih Ajeng.
“Hahaha lebay deh, Jeng. Kamu ikut aku ke Jakarta yuk?” ajak Tania. Kampung halaman Ajeng di Surabaya sementara Tania di Jakarta, perbedaan jarak yang cukup jauh antara utara dan selatan.
“Jauh, Tania.” balas Ajeng. Tania hanya tersenyum melihat raut wajah temannya ini.
“Kalau aku boleh gak ikut kamu ke Jakarta?” suara cowok yang sudah familiar kembali terdengar di telinga Tania dan Ajeng. Seketika mereka langsung menoleh dan melihat sosok cowok berdiri sambil membawa tas dan kunci motor ditangannya.
“Fali, ngapain ke Jakarta?” tanya Tania heran.
“Main aja hehehe.” jawab Fali tersenyum.
“Uhuk.” Ajeng mengeluarkan batuk yang dibuat-buat. “Modus” celetuk Ajeng. Fali hanya tersenyum jail.
“Oh ya Tan, kamu pulang bareng siapa?” tanya Fali mengalihkan perkataan Ajeng.
“Aku bawa motor sendiri kok.” jawabnnya.
“Duh, Fali kamu tuh modus banget sih jadi cowok. Bilang aja langsung, ‘Tan, bareng aku yuk pulangnya.’ Modus banget sih.” omel Ajeng.
“Apasih, Ajeng. Norak ah.” cemberut Tania.
“Fali kali yang norak hahaha.” Ajeng tak mau kalah dengan Tania.
Fali sepertinya kalah dengan basa-basi yang sudah biasa, dan ajakannya pasti akan di tolak oleh Tania.
“Hati-hati ya, Tan.” kata Fali sambil mengelus-elus rambut Tania.
Tania hanya tersenym dan rasanya seperti terbang ke angkasa untuk kedua kalinya. Fali sudah tidak ada diantara Tania dan Ajeng. Tangan Ajeng dicengkram oleh Tania. “AHHHHH AKU SENENG!”
“Ada yang jatuh cinta nih.” ucap Ajeng. Tania hanya tersenyum bahagia.
***
Liburan semester sudah terlewati dua minggu masih ada dua minggu lagi untuk menikmatinya. Rasa kangen pada Ajeng dan Fali mulai muncul secara bersamaan seperti air yang mengalir.
Dreet…dreet…
Getaran ponsel Tania membujuknya untuk melihat isi pesan yang muncul di layar ponsel. Tertera nama ‘Fali’.
Aku di Jakarta lho…. Ketemuan yuk. –Fali-
Detak jantungku berdegup dengan kencang, bahagia. Tanpa berpikir panjang Tania langsung membalas pesan dari Fali.
Hah, ngapain? –Tania-
Dalam hitungan detik, Fali membalas dengan cepat.
Main, ak tunggu di Jco ya. Sekarang J  –Fali-
Dengan senyuman bahagia Tania langsung meninggalkan rumahnya dan menuju tempat yang dimaksud oleh Fali.
***
Mall ini terlalu besar membuat Tania lelah berjalan menuju Jco. Disana sudah ada sosok cowok yang sangat familiar oleh mata Tania. Duduk dan menikmati donat khas Jco.
“Hai.” sapa Tania.
“Hai… Silakan duduk.” Fali mempersilakan Tania untuk duduk.
“Kamu apa kabar?” tanya Fali basa-basi.
“Baik, kamu?” balas Tania.
“Baik.” singkatnya.
“Kamu ngapain ke Jakarta?” tanya Tania heran.
“Pengen ketemu sama kamu lah.” Fali langsung to the point. Sementara Tania yang mendengarkan hanya terkejut dan diam tanpa kata.
“Kenapa kamu gak ke Semarang aja ketemu sama pacarmu?” tanyaku penasaran.
“Hehehe…. Kamu mau pesan apa?” Fali mengalihkan pembicaraan dan mulai mengajak Tania untuk mendengarkannya cerita.
“Hmm… sama aja deh.”
Dalam pikiran Tania hanya ada pertanyaan ‘ngapain kamu ke Jakarta? Pacarmu ada di Semarang kenapa gak kesana aja?’
***
Jakarta pagi ini di genangi oleh air semenjak hujan yang menguyur semalaman, semakin cepat air itu memenuhi sepanjang jalan ibu kota. Banjir ibu kota membuat kepanikan warga Jakarta, sama seperti Tania, bedanya dia panik karena mulai menyayangi Fali lebih dari teman atau sahabat.
‘Seharusnya aku gak boleh sayang sama Fali, dia kan udah punya pacar. Lagi pula, Fali gak mungkin suka sama aku. Dia cuma anggap aku temannya, sebatas teman. Udahlah Tania, jangan banyak berharap. Perhatiannya hanya sebatas teman saja, tidak lebih. Ayo Tania ini realitas, jangan kebanyakan ngayal’
Tania selalu mengelak tentang perasaan yang ada dalam hatinya.
Dreet… Dreett…
“Fali – lagi” celetuk Tania.
Tania lagi apa? Udah makan belum? Engga kebanjiran kan rumahmu? –Fali-
Well, Tania kembali merasakan getaran cinta dalam hatinya.
Lagi duduk aja, udah kok. Kamu? Enggak kebanjiran kok. –Tania-
Aku juga udah. Syukurlah kalau gak kebanjiran. Kamu hati-hati ya. J -Fali-
Iya makasih, Fal –Tania-
Sama-sama, Tan. –Fali-
Tania tidak membalas pesan dari Fali, karena menurutnya sudah cukup untuk perhatiannya.

***
Setiap hari Fali semakin sering mengirimkan pesan-pesan singkat yang menunjukkan perhatiannya dan sekali-kali kata-kata mesra muncul pada pesan singkat tersebut. Terkadang Tania berpikir, apa dia yang terlalu ke-geer-an karena sikap Fali yang terlalu perhatian atau Fali yang terlalu memberikan harapan palsu pada Tania.
Liburan sudah selesai dan saat ini Tania sudah kembali ke rutinitas awal untuk mengejar cita-cita. Dia tidak sabar untuk cerita pada Ajeng tentang kejadian di Jakarta. Mata Tania mencari-cari batang hidung Ajeng tetapi tidak menemukan orang yang sedang dia cari.
“Cieee Tania, liburan ketemuan sama Fali ya di Jakarta. Cieeeee….” goda Berto, pacar Ajeng.
“Ciee Tania, di samperin sama Fali.” timpal Juan.
Tania bingung dengan pernyataan teman-teman, itu bukan gossip tapi kenyataan. Tapi mereka tahu darimana ya? Bukankah hanya Tania dan Fali saja yang mengetahui tentang ini, bahkan Tania saja belum cerita pada Ajeng. Mungkinkah Fali yang cerita ini semua?
Tania melihat cowok blesteran Papua-Portugal sedang berbicara dengan teman-temannya. Tak segan Tania menghampirinya “Sorry, aku boleh bicara dengan kamu, Fal?” tanya Tania tanpa ingin mengganggu obrolan Fali dengan teman-temannya. “Oh, boleh-boleh.” Fali mengangguk dan keluar dari kerumunan teman-temannya. “Ciee Tania, kangen ya sama Fali. Kan udah ketemu sama Fali di Jakarta, masih kangen aja sih.” goda Juan. “Apaan sih.” cetus Tania.
“Ada apa ya?” tanya Fali heran.
“Kok teman-teman bisa tau ya kita ketemuan di Jakarta? Kamu ngasih tau ke mereka?” tanya Tania sedikit menahan emosi.
“Oh itu, iya aku cerita aja ke mereka. Soalnya mereka tanya aku kemana aja liburan, lalu aku cerita ke Jakarta ketemu sama kamu. Salah ya?” cerita Fali.
Tania menjadi salah tingkah, seharusnya dia tidak bersikap seperti itu. Iya, Fali tidak salah cerita pada mereka. Tapi, situasinya yang salah untuk cerita tentang pertemuan ini ke teman-teman.
“TANIAAAA!!!!” teriak suara cewek yang membuat mata Tania segera menoleh kearah suara tersebut, dan cewek ini langsung berlari mendekati Tania. Dia menjatuhkan pelukan pada Tania. “Aku kangen banget sama kamu. Kamu baik-baik aja kan? Ke kantin yuk, cerita-cerita tentang liburan kemarin.” ajak Ajeng sambil menarik tangan Tania. Tania patut bersyukur atas penyelamatan ini.
Sepanjang makan di kantin, Tania menceritakan kejadian liburan di Jakarta terutama cerita tentang pertemuan dia dengan Fali. Ajeng terkejut dengan cerita pertemuan Fali ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan Tania. Temannya mulai memikirkan maksud dibalik perhatian Fali pada Tania.
***
Malam ini sepertinya penuh dengan pertanyaan dalam pikiran Tania, dia bingung dengan perasaannya dan semakin tidak menentu. Tania mulai menekan nomor ponsel Ajeng.
Tuttt….tuuttt…
“Hallo….” jawab Ajeng.
“Ajeng….” sapanya.
“Kenapa, Tan? Baik-baik aja kan?” tanya Ajeng khawatir.
“Aku lagi bingung, aku bener-bener suka sama Fali nih. Salah gak sih kalau aku bilang sama dia, ‘aku sayang kamu, Fal’?” tanya Tania meminta saran.
“Kamu beneran sayang sama Fali ya, Tan?” tanya Ajeng hati-hati.
“Iya, Jeng. Rasa sayang aku ke dia tuh kaya air yang mengalir begitu saja, tanpa aku duga kapan aku mulai sayang sama dia. Aku nyaman, dan tenang kalau didekat dia.” ceritanya.
“Sebenarnya gak ada salahnya sih, kamu nyatain perasaan ke Fali. Tapi kamu udah tau kan kalau Fali udah punya pacar?” jelasnya hati-hati.
“Iya aku tau kok, tapi aku pengen kasih tau dia aja kalau aku sayang sama dia lebih dari teman atau sahabat.” ucap Tania.
“Siap tanggung resiko ya, Tan?” tanya Ajeng.
“Siap.” singkat Tania.
***
Hari ini semuanya harus Tania katakan, apapun balasan dari Fali, dia harus siap menanggung itu semua, ini semua resiko. Tania mulai mengetik pesan singkat untuk Fali, tangannya gemetaran saat menekan keyword di ponselnya.
Fal, aku tunggu di taman kolam ya. –Tania-
Setelah menunggu satu menit, Fali membalas pesan dari Tania.
Wah kebetulan aku lagi disekitar taman kolam nih. Oke aku kesana ya. –Fali-
Dua menit Tania menunggu tiba-tiba cowok yang ditunggu-tunggu sudah berdiri di depannya. Sekejap Tania mengatur nafasnya agar terlihat lebih santai.
“Ada apa Tan?” tanya Fali dengan senyuman.
“Ada yang mau aku omongin.” ucapnya.
“Oh yaudah katakan saja.” Fali mempersilakan.
“Ehmm…. Sebenarnya selama ini aku itu ….. hmmm….” Suara cewek yang sangat tidak familiar tiba-tiba memanggil nama Fali. “FALI!” teriaknya.
Fali dan Tania menoleh kearah suara berasal, mereka menemukan cewek langsing berambut panjang dan berkulit putih mengenakan baju bermotif bunga-bunga dan jeans berwarna biru menghampiri Fali dan Tania. Fali tersenyum pada cewek yang memanggil namanya.
“Hei.” sapa Fali dengan senyuman.
“Kamu belum pulang?” tanya cewek disamping Fali.
“Iya tadi ada urusan sebentar sama temanku.” balasnya pada cewek langsing ini, dan menunjuk ‘teman’ ke arah Tania. Cewek itu hanya mengangguk dan melemparkan senyuman pada Tania, dia membalas dengan senyuman. “Oh ya Tan, kenalin ini pacar aku namanya Fia, dia lagi liburan disini, oh ya, rencananya setelah Natal kita akan tunangan. Maklum udah kelamaan pacaran, biar ada ikatan yang menyatukan kita harus ada tunangan hehhehe. Kenalin sayang ini Tania teman aku.” jelas Fali. Fia mengulurkan tangan, namun Tania masih terkejut dengan pernyataan Fali yang barusan keluar dari mulutnya. Percikan air menyentuh wajah Tania, seakan air ingin mengatakan bahwa mulai hari ini Tania harus sadar dengan sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa Fali bukan miliknya. “Tania….. Tania…” panggil Fali. “Sorry, hmm aku Tania.” balas uluran tangan Fia.
“Duh aku harus pulang duluan nih, sorry ya.” Tania melirik jam ditangannya, dan berlari meninggalkan Fali dan Fia.
***
Semalaman Tania sudah menangis mengingat akan kejadian di kampusnya, dan pernyataan yang dikatakan oleh Fali. Bukan menolak, tetapi memberitahu bahwa dia dan pacarnya akan segera tunangan. Ini kenyataan, bukan dunia dongeng dan sudah seharusnya cerita ini berakhir seperti ini.
Air yang mampu menenangkan hati Tania, dia juga mampu menyadarkannya akan sebuah kenyataan yang harus dia hadapi di dalam kisah hidupnya.

“Biarlah air terus mengalir dengan sendirinya, dan membuat cerita yang baru dalam kisah hidupnya, denganku atau tanpa aku.”





Salam Penulis,



Regina Krisna Santi / @reginacintem

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer