Kota yang menjadi tempat pertama kali kita jumpa, disebuah kereta yang membawa kita pergi bersama ke kota yang dikenal dengan kemacetan, dan kita selalu bertemu di stasiun saat kali pertama bertemu, selalu begitu....
Semenjak pertemuan itu, kita semakin dekat. Bahkan selalu mengucapkan tanggal special pertemuan antara kamu dan aku. Aku bahagia mengenalimu, dan menghabiskan waktu bersamamu.
Pada bulan ke dua, kamu pergi meninggalkanku. Kamu merantau di kota seberang, kita akan merasakan yang namanya RINDU. Tepat sehari sebelum tanggal special itu, kamu pergi meninggalkanku, dan meninggalkan sebuah tanda, yang aku tidak tahu maksud dari tanda itu apa, yang jelas aku akan selalu menunggumu disini, sampai kamu kembali.
Bulan pertama semenjak kamu pergi merantau, aku mulai merasakan yang namanya rindu, aku tidak tahu kamu merasakan hal yang sama atau tidak. Kamu mulai sering tidak memberikan kabar, padahal aku ingat, sehari sebelum kamu pergi kamu mengatakan "Kamu gak boleh berubah, kamu harus tetap jadi diri kamu yang aku kenal, yang selalu memberikan senyuman dan jadilah wanita yang menganggumkan, kamu harus tetap selalu mengabariku, begitupun aku akan selalu mengabarimu, kamu gak boleh cuek-cuek ya sama aku, kalau nanti aku kerja." begitu katamu. Ketika aku teringat semua kata-katamu, hanya ada tetesan air mata yang mampu mewakili semua perasaanku ini. Ayah dan Ibu ku bertanya tentangmu, mereka menghiburku "Dia sedang kerja, mungkin saja sibuk, atau dia tidak ingin menganggu kamu yang sedang menyelesaikan studimu. Berdoa saja."
Dalam doaku, selalu ada namamu, semoga kamu selalu sukses dalam setiap usahamu, dalam setiap pekerjaanmu.
Bulan ke dua di kota perantauanmu, kamu semakin tidak menghubungiku, selalu aku dan aku yang menghubungimu lebih dulu, hingga pada bulan ke tiga, selalu begitu. Aku selalu menanyakan kabarmu, bagaimana pekerjaanmu, dan pertanyaan kecil yang mungkin terdengar klise untukmu : "sedang apa, sudah makan?" sampai pada akhirnya aku menanyakan "Kamu kapan pulang?........" ingin rasanya melanjutkan pesan itu tapi aku tak sanggup "aku merindukanmu, cepat pulang." semua itu tak sampai, hanya ada dalam hatiku.
Aku memahami pekerjaanmu, yang katamu sangat sibuk. Aku percaya itu semua, tapi apa sulit untuk mengabariku, setidaknya satu pesan saja?
Terkadang aku khawatir denganmu, aku khawatir kalau kamu sakit. Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk tetap menjaga kesehatanmu, agar kamu tidak sakit.
Waktu demi waktu terus berputar, dan aku tetap menunggumu disini, sampai pada akhirnya ada sebuah rasa ingin bertanya kembali "Kapan kamu kembali?" dan saat itu juga kamu menjawab "Aku sudah di Jakarta, baru tadi pagi sampai." Rasanya membaca pesan itu, ada perasaan campur aduk. Bahagia karena kamu akan kembali ke kota penuh cerita, dan disisi lain aku merasakan kecewa. Tak sempatkah mengabariku kalau kamu akan kembali? Satu menit untuk mengirim pesan dan mengabariku lebih dulu, tanpa harus aku yang lebih dulu menanyakan? Mungkin sibuk, iya sibuk.
Aku menjemputmu di Stasiun tempat pertama kali kita bertemu, aku tersenyum ketika menatapmu, begitupun denganmu. Namun, yang ku lihat tak ada cahaya dalam matamu, dan tak ada lukisan senyuman dalam bibirmu. Semua terlihat berubah, seperti ada yang hilang. Begitupun saat kamu sedang mengendarai motor, tak ada kebiasaan yang sering kamu lakukan. "Kamu selalu menatapku dari balik spion motorku." bahkan kebiasaan itu sudah hilang. Apa tiga bulan di perantauan kamu melupakan itu semua? Tunggu...... Bukankah kamu juga menyukai kebiasaan itu? Aku ingat kamu pernah mengatakan ini padaku "Aku gak bisa lihat kamu lagi dari spion motor, aku pasti kangen." semudah itu semua hilang? Bahkan gelang rosario pun tak ada di lenganmu. Banyak yang hilang dan berubah darimu. Ini baru tiga bulan kamu meninggalkan aku, bagaimana kalau setahun, dua tahun, tiga tahun.........? Aku tidak tahu!
Empat hari kamu di kota yang penuh cerita ini, tak sedikit pun kamu memulai sebuah percakapan di media sosial atau bahkan kamu datang menemuiku, atau saling membuat janji bertemu di sebuah tempat, tak ada sedikitpun aku mendapatkan pesan itu. Sama sekali.
Kalau saja aku yang tidak memulainya, kamu tidak akan membuat sebuah percakapan.
Hari rabu malam kamu tiba, kamis dan jumat katamu sedang sibuk dengan motor, packing barang yang masih kamu simpan di kosmu. Sabtu, pikirku kamu akan mengajak aku pergi keluar, sayang aku terlalu kepedean. Sabtu pagi memang aku sibuk, sabtu siang kota ini di guyur hujan, tapi Tuhan sangat baik, saat malam dia memberikan terang. Aku selalu menunggu ponselku berdering dan berharap itu darimu, nyatanya tidak. Minggu pagi sampai siang Tuhan pun masih baik tidak memberikan hujan, aku tetap menunggu ponselku berdering, ya kali saja, kamu mengajakku untuk pergi ke gereja bareng, atau salam perpisahan lagi, karena minggu sore kamu akan kembali lagi ke kota rantauan. Sampai aku tertidur tak ada pesan darimu. Aku ingat tepat pukul 17.06 WIB, ponselku berdering dan itu pesan darimu. Kamu hanya mengucapkan kata maaf dan pamit untuk merantau lagi.
Hanya sebatas itu yang kamu lakukan? Hanya melalui pesan via chatting? Apa kamu tidak bisa datang sebentar menemuiku, atau kita janjian bertemu disuatu tempat? Apa kamu sama sekali tidak bisa meluangkan waktu untukku, walau hanya semenit saja?!
Aku sengaja tidak membalas pesan darimu, aku kecewa!
Hari ini 18 November 2014, tepat lima bulan kita saling kenal. Aku menunggu kamu lebih dulu mengucapkan hal itu padaku, seperti bulan-bulan lalu. Sayang, sampai detik ini pun kamu tidak mengucapkan sama sekali. Bahkan, kamu membuat pesan di BBM "If you're brave enough to say goodbye, life will reward you with new hello" dan memasang display picture dengan kata-kata ini "Wanita cantik itu biasa. Wanita yang mampu menghargai pria dan mendukung tanpa putus asa itu langka."
Apa maksudmu?!
Iya itu hanya display picture yang bisa buat siapa saja, tapi tidak biasanya aku merasa sakit ketika melihat dan membaca pesan yang ada di display picturemu. Seakan itu untukku.
Jika iya itu untukku.
Aku sangat kecewa dengamu.
Kenapa?
Apa selama ini aku tidak bisa menghargaimu?
Apa selama ini aku tidak mendukung kamu?
Apa aku harus mendukung kamu seperti team cheers yang membawa pom-pom mengibar-ngibarkan pom-pomnya?
Apa aku harus bersorak-sorai untuk memberi dukungan padamu?
Aku punya cara sendiri untuk menghargai dan mendukungmu. Tanpa harus memberikan tindakan secara terlihat, tetapi yang aku lakukan nyata.
Dibalik semua rasa kecewa aku padamu, I'm never gonna say goodbye, cause I'm still love you.!


08.42
reginacintem

0 komentar:
Posting Komentar