Minggu, 17 Agustus 2014
Stasiun Tugu, Yogyakarta
“Jaga diri baik-baik ya, terima
kasih untuk kebersamaannya selama ini. Ingat pesan dari aku.” ucap Gema dengan
menatap sendu Nada.
Nada hanya tersenyum tipis menahan
air mata yang sedari tadi berlomba-lomba ingin segera membahasi pipinya.
Tubuh Gema semakin mendekat, Nada
mencium aroma tubuhnya, aroma yang selama ini dia kenal. Semakin dekat tubuh
Gema membuat detak jantung Nada ingin keluar. Tanpa ia sadari bibir Gema sudah
mendarat di kening Nada. Seluruh organ tubuh Nada mendadak melemas, begitupun detak
jantung seakan berhenti beberapa detik. Kawanan butir air mata bahagia
menyambut ciuman, dengan bebas mereka turun satu persatu. Sebuah pelukan pun
dilakukan oleh Gema. Kali ini, butiran air mata menang. Nada membalas pelukan
yang diberikan oleh Gema.
“Aku pasti kembali.” Katanya menenangkan
Nada. Tak hanya air mata, isakan tangis pun semakin meraung. Gema melepaskan
pelukannya, “Aku pergi ya” ucapnya sambil meninggalkan Nada. Sebuah lambaian
tangan mengantarkan kepergiannya.
***
“Aku
pasti kembali”
Sebuah
kalimat yang menurut Nada sangat penting, dia selalu menunggu kehadiran Gema.
Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun selalu dia habiskan untuk
menunggu. Semenjak Gema kerja, dia sangat sibuk sekali, komunikasi yang
biasanya intens setiap hari menjadi seperlunya saja. Nada memaklumi
kesibukannya saat ini sebagai seorang karyawan di sebuah Perusahaan
Pertambangan Kalimantan. Nada tahu bahwa pekerjaan yang sedang Gema jalani
bukan sebuah pekerjaan yang ringan tetapi cukup berat. Mau bagaimanapun Nada
sangat merindukan Gema, dia ingin sekali mendengar suara kekasihnya, tapi apa
boleh buat telepon selalu tidak di jawab oleh Gema.
Nada
akhirnya mengirim sebuah pesan.
“Gema sayang, maaf ya aku
mengganggu kamu. Aku hanya ingin mendengar suaramu, aku sangat merindukan kamu.
Kamu baik-baik ya disana, jaga kesehatan.”
Butiran
air mata jatuh perlahan membasahi pipi mungil Nada.
***
Calling Gema….
Melihat
sebuah nama kekasihnya, Nada langsung menjawab telepon.
“Hallo
sayang, apa kabar?” riang Nada.
“Aku
baik. Kamu gimana?” tanya Gema.
“Aku
juga baik, Gema. Aku kangen banget sama kamu. Kamu sibuk banget ya? Aku mau bilang sesuatu ke kamu.” tanya Nada
dengan suara parau.
“Kamu
mau kasih tau apa? Aku juga mau kasih tau kamu sesuatu.” tanya Gema dengan
suara serius.
Mendengar
suara Gema yang serius, dia membiarkan Gema lebih dulu mengutarakan sesuatu yang
ingin dia beritahu kepadanya “Kamu duluan deh.”
“Nada,
aku gak bisa jalani hubungan ini lagi. Maaf, aku gak bisa jalani hubungan jarak
jauh kayak gini. Aku tersiksa setiap kali kamu mengirim pesan ‘kangen’ sama
aku. Aku gak bisa lihat kamu sedih terus-terusan nungguin kepulangan aku.” Jelas
Gema dengan tegas.
Hati
Nada rasanya sakit seperti teriris dan tertusuk berkali-kali. Dia menangis.
Gema mendengar suara tangisan kekasihnya.
“Aku
minta maaf kalau itu membuat kamu tersiksa, tapi aku bersyukur tidak pernah
sedikitpun merasakan sebuah siksaan ketika menanti kepulanganmu. Aku selalu
menantimu sampai detik ini. Kalau itu sebuah siksaan untukmu, maaf dan terima
kasih untuk kebersamaannya. Sesuai janji kita, aku mau kasih tau kalau besok
aku akan sidang skripsi. Mohon doanya.” Untuk kesekian kalinya butiran air mata
ini jatuh. Sesak rasanya.
***
Setelah
kelulusannya, dunia baru mulai diciptakan oleh Nada dan saat ini mantan kekasih
Gema bekerja disebuah Perusahaan daerah Jakarta. Nada sangat menekuni dan
mencintai pekerjaannya, sampai-sampai dia sedikit demi sedikit bisa mengikhlaskan
keputusan Gema. Dia tahu bahwa keputusan Gema bukan akhir dari segalanya, dia
harus bisa bangkit.
Dengan
ketekunan dan rasa cintanya pada pekerjaan yang dia pilih, Nada diberikan reward oleh Direktur, sebagai Asisten Manager
Perusahaan. Semakin banyak lagi pekerjaan yang akan dikelola oleh Nada.
“Ibu
Nada, besok pagi kita akan ada rapat dengan Perusahaan lain, mohon datang lebih
awal ya. Oh ya, saya ingin Ibu yang memimpin rapat kali ini.” Kata Pak Toni,
selaku Kepala Direktur Perusahaan.
“Baik,
Pak.”
***
Nada
akhirnya tiba di kantor sebelum pintu gerbang di buka oleh Satpam, dia tidak
ingin mengecewakan perintah dari Pak Toni.
“Pagi
Pak Boni” sapa Nada kepada Satpam.
“Pagi,
Bu. Pagi sekali datangnya?” tanya Satpam heran.
“Ada
rapat Pak. Mari Pak.” Nada berpamitan kepada Satpam.
Nada
melihat di lobby seorang pria
mengenakan kemeja biru dibaluti oleh dasi berwarna merah, celana kain hitam dan
sepatu pantofel hitam sedang duduk sambil merapikan isi tasnya.
“Tumben sudah ada yang datang”
batin Nada dalam hati.
Nada
mengurungkan niatnya untuk menyapa pria tersebut, dia langsung naik ke
ruangannya untuk mempersiapkan rapat pagi ini.
***
“Ibu Nada, perkenalkan
ini Pak Gema perwakilan dari Perusahaan Pertambangan di Kalimantan. Pak Gema,
perkenalkan ini Ibu Nada Asisten Manager dari Perusahaan kami, yang akan
memimpin rapat pagi ini.” Pak Toni memperkenalkan kami berdua.
Nada sempat kaget
mendengar dan melihat sosok orang di masa lalunya. Begitupun dengan Gema
merasakan hal yang sama. Nada tidak ingin memperlihatkan kepada Pak Toni dan
rekan kerja lainnya bahwa dia sudah lebih dulu mengenali Gema sebelum pertemuan
pagi ini. Dia tahu harus bekerja professional,
walaupun sebenarnya pagi ini hal yang tidak tahu harus ia syukuri atau sesali.
Selama rapat
berlangsung, Gema sangat menunjukkan profesionalnya dalam bekerja. Nada dan
Gema seperti dua insan yang sedang berdiskusi di ruang rapat, sama sekali tidak
menunjukkan bahwa mereka pernah menjalani hubungan khusus.
Saat rapat selesai, Pak
Toni dan rekan kerja lainnya keluar dari ruangan rapat, hanya ada Nada dan Gema
yang masih sibuk merapikan berkas-berkas hasil rapat. Keduanya tanpa bicara,
dan membisu. Terdengar suara dari ketukan sepatu Nada hendak keluar dari
ruangan rapat tetapi Gema meraih tangan Nada. “Aku ingin bicara.” katanya
kemudian.
“Masa lalu?” tanya Nada.
Gema menggangguk. “Tidak disini.” Balas Nada. “Kalau begitu, aku tunggu di kafe
dekat kantor ini ya.” Ajak Gema pada Nada, Nada hanya tersenyum lalu
meninggalkan Gema seorang diri di dalam ruangan rapat.
***
Gema sudah menunggu
Nada selama dua jam tetapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang, dan Gema
akhirnya bangkit berdiri hendak meninggalkan tempat yang sudah dia tempati
sejak tadi.
“Baru dua jam menunggu,
udah nyerah gitu aja.” Terdengar suara Nada dari belakang.
Gema kaget dan menoleh “Nada”
panggilnya. Nada hanya tersenyum.
“Aku mau minta maaf.” Ucap
Gema lirih.
“Aku sudah maafin kamu,
saat pertama kali kamu membuat keputusan itu.” Senyum Nada sambil mengingat
beberapa tahun lalu. Nada yang sekarang bukan Nada yang dulu, kini Nada sudah
bisa lebih menenangkan dirinya, tanpa perlu menangis ketika mendengar atau
menerima kenyataan yang pahit untuknya, dia lebih cenderung tegar dan ikhlas.
“Aku sangat menyesal.” Sesal
Gema terhadap kesalahannya yang dulu.
“Sudah Gema, gak ada
lagi yang perlu disesali, bersikaplah dewasa” senyum Nada kepada Gema.
“Nada, sejujurnya aku
masih menyayangi dan mencintai kamu. Aku yakin sebuah pertemuan kita dulu dan
saat ini bukan sebuah kebetulan, ini semua adalah rencana Tuhan. Tuhan memang
pernah memisahkan kita, itu semua supaya kita sama-sama belajar agar lebih
dewasa lagi.”
“Aku percaya itu, Gema.”
“Kamu masih punya
perasaan yang sama dengan aku kan?” tanyanya sambil memegang tangan Nada.
“Tentu. Rasa sayang aku
sama kamu gak pernah berubah sampai detik ini. Bahkan, aku percaya Tuhan pasti
mempertemukan aku dan kamu lagi, seperti sekarang ini.”
Gema memeluk erat Nada,
dia tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi. Kini, Gema dan Nada adalah dua insan
yang dipertemukan kembali, menjadi pribadi baru, dan kembali mengukir kisah
yang baru. Gema dan Nada sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


09.40
reginacintem

0 komentar:
Posting Komentar