Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Jumat, 10 April 2015

GEMA & NADA

Minggu, 17 Agustus 2014
Stasiun Tugu, Yogyakarta
“Jaga diri baik-baik ya, terima kasih untuk kebersamaannya selama ini. Ingat pesan dari aku.” ucap Gema dengan menatap sendu Nada.
Nada hanya tersenyum tipis menahan air mata yang sedari tadi berlomba-lomba ingin segera membahasi pipinya.
Tubuh Gema semakin mendekat, Nada mencium aroma tubuhnya, aroma yang selama ini dia kenal. Semakin dekat tubuh Gema membuat detak jantung Nada ingin keluar. Tanpa ia sadari bibir Gema sudah mendarat di kening Nada. Seluruh organ tubuh Nada mendadak melemas, begitupun detak jantung seakan berhenti beberapa detik. Kawanan butir air mata bahagia menyambut ciuman, dengan bebas mereka turun satu persatu. Sebuah pelukan pun dilakukan oleh Gema. Kali ini, butiran air mata menang. Nada membalas pelukan yang diberikan oleh Gema.
“Aku pasti kembali.” Katanya menenangkan Nada. Tak hanya air mata, isakan tangis pun semakin meraung. Gema melepaskan pelukannya, “Aku pergi ya” ucapnya sambil meninggalkan Nada. Sebuah lambaian tangan mengantarkan kepergiannya.

***
“Aku pasti kembali”
Sebuah kalimat yang menurut Nada sangat penting, dia selalu menunggu kehadiran Gema. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun selalu dia habiskan untuk menunggu. Semenjak Gema kerja, dia sangat sibuk sekali, komunikasi yang biasanya intens setiap hari menjadi seperlunya saja. Nada memaklumi kesibukannya saat ini sebagai seorang karyawan di sebuah Perusahaan Pertambangan Kalimantan. Nada tahu bahwa pekerjaan yang sedang Gema jalani bukan sebuah pekerjaan yang ringan tetapi cukup berat. Mau bagaimanapun Nada sangat merindukan Gema, dia ingin sekali mendengar suara kekasihnya, tapi apa boleh buat telepon selalu tidak di jawab oleh Gema.
Nada akhirnya mengirim sebuah pesan.
“Gema sayang, maaf ya aku mengganggu kamu. Aku hanya ingin mendengar suaramu, aku sangat merindukan kamu. Kamu baik-baik ya disana, jaga kesehatan.”
Butiran air mata jatuh perlahan membasahi pipi mungil Nada.
***
Calling Gema….
Melihat sebuah nama kekasihnya, Nada langsung menjawab telepon.
“Hallo sayang, apa kabar?” riang Nada.
“Aku baik. Kamu gimana?” tanya Gema.
“Aku juga baik, Gema. Aku kangen banget sama kamu. Kamu sibuk banget ya?  Aku mau bilang sesuatu ke kamu.” tanya Nada dengan suara parau.
“Kamu mau kasih tau apa? Aku juga mau kasih tau kamu sesuatu.” tanya Gema dengan suara serius.
Mendengar suara Gema yang serius, dia membiarkan Gema lebih dulu mengutarakan sesuatu yang ingin dia beritahu kepadanya “Kamu duluan deh.”
“Nada, aku gak bisa jalani hubungan ini lagi. Maaf, aku gak bisa jalani hubungan jarak jauh kayak gini. Aku tersiksa setiap kali kamu mengirim pesan ‘kangen’ sama aku. Aku gak bisa lihat kamu sedih terus-terusan nungguin kepulangan aku.” Jelas Gema dengan tegas.
Hati Nada rasanya sakit seperti teriris dan tertusuk berkali-kali. Dia menangis. Gema mendengar suara tangisan kekasihnya.
“Aku minta maaf kalau itu membuat kamu tersiksa, tapi aku bersyukur tidak pernah sedikitpun merasakan sebuah siksaan ketika menanti kepulanganmu. Aku selalu menantimu sampai detik ini. Kalau itu sebuah siksaan untukmu, maaf dan terima kasih untuk kebersamaannya. Sesuai janji kita, aku mau kasih tau kalau besok aku akan sidang skripsi. Mohon doanya.” Untuk kesekian kalinya butiran air mata ini jatuh. Sesak rasanya.
***
Setelah kelulusannya, dunia baru mulai diciptakan oleh Nada dan saat ini mantan kekasih Gema bekerja disebuah Perusahaan daerah Jakarta. Nada sangat menekuni dan mencintai pekerjaannya, sampai-sampai dia sedikit demi sedikit bisa mengikhlaskan keputusan Gema. Dia tahu bahwa keputusan Gema bukan akhir dari segalanya, dia harus bisa bangkit.
Dengan ketekunan dan rasa cintanya pada pekerjaan yang dia pilih, Nada diberikan reward oleh Direktur, sebagai Asisten Manager Perusahaan. Semakin banyak lagi pekerjaan yang akan dikelola oleh Nada.
“Ibu Nada, besok pagi kita akan ada rapat dengan Perusahaan lain, mohon datang lebih awal ya. Oh ya, saya ingin Ibu yang memimpin rapat kali ini.” Kata Pak Toni, selaku Kepala Direktur Perusahaan.
“Baik, Pak.”
***
Nada akhirnya tiba di kantor sebelum pintu gerbang di buka oleh Satpam, dia tidak ingin mengecewakan perintah dari Pak Toni.
“Pagi Pak Boni” sapa Nada kepada Satpam.
“Pagi, Bu. Pagi sekali datangnya?” tanya Satpam heran.
“Ada rapat Pak. Mari Pak.” Nada berpamitan kepada Satpam.
Nada melihat di lobby seorang pria mengenakan kemeja biru dibaluti oleh dasi berwarna merah, celana kain hitam dan sepatu pantofel hitam sedang duduk sambil merapikan isi tasnya.
“Tumben sudah ada yang datang” batin Nada dalam hati.
Nada mengurungkan niatnya untuk menyapa pria tersebut, dia langsung naik ke ruangannya untuk mempersiapkan rapat pagi ini.
***
“Ibu Nada, perkenalkan ini Pak Gema perwakilan dari Perusahaan Pertambangan di Kalimantan. Pak Gema, perkenalkan ini Ibu Nada Asisten Manager dari Perusahaan kami, yang akan memimpin rapat pagi ini.” Pak Toni memperkenalkan kami berdua.
Nada sempat kaget mendengar dan melihat sosok orang di masa lalunya. Begitupun dengan Gema merasakan hal yang sama. Nada tidak ingin memperlihatkan kepada Pak Toni dan rekan kerja lainnya bahwa dia sudah lebih dulu mengenali Gema sebelum pertemuan pagi ini. Dia tahu harus bekerja professional, walaupun sebenarnya pagi ini hal yang tidak tahu harus ia syukuri atau sesali.
Selama rapat berlangsung, Gema sangat menunjukkan profesionalnya dalam bekerja. Nada dan Gema seperti dua insan yang sedang berdiskusi di ruang rapat, sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka pernah menjalani hubungan khusus.
Saat rapat selesai, Pak Toni dan rekan kerja lainnya keluar dari ruangan rapat, hanya ada Nada dan Gema yang masih sibuk merapikan berkas-berkas hasil rapat. Keduanya tanpa bicara, dan membisu. Terdengar suara dari ketukan sepatu Nada hendak keluar dari ruangan rapat tetapi Gema meraih tangan Nada. “Aku ingin bicara.” katanya kemudian.
“Masa lalu?” tanya Nada. Gema menggangguk. “Tidak disini.” Balas Nada. “Kalau begitu, aku tunggu di kafe dekat kantor ini ya.” Ajak Gema pada Nada, Nada hanya tersenyum lalu meninggalkan Gema seorang diri di dalam ruangan rapat.
***
Gema sudah menunggu Nada selama dua jam tetapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang, dan Gema akhirnya bangkit berdiri hendak meninggalkan tempat yang sudah dia tempati sejak tadi.
“Baru dua jam menunggu, udah nyerah gitu aja.” Terdengar suara Nada dari belakang.
Gema kaget dan menoleh “Nada” panggilnya. Nada hanya tersenyum.
“Aku mau minta maaf.” Ucap Gema lirih.
“Aku sudah maafin kamu, saat pertama kali kamu membuat keputusan itu.” Senyum Nada sambil mengingat beberapa tahun lalu. Nada yang sekarang bukan Nada yang dulu, kini Nada sudah bisa lebih menenangkan dirinya, tanpa perlu menangis ketika mendengar atau menerima kenyataan yang pahit untuknya, dia lebih cenderung tegar dan ikhlas.
“Aku sangat menyesal.” Sesal Gema terhadap kesalahannya yang dulu.
“Sudah Gema, gak ada lagi yang perlu disesali, bersikaplah dewasa” senyum Nada kepada Gema.
“Nada, sejujurnya aku masih menyayangi dan mencintai kamu. Aku yakin sebuah pertemuan kita dulu dan saat ini bukan sebuah kebetulan, ini semua adalah rencana Tuhan. Tuhan memang pernah memisahkan kita, itu semua supaya kita sama-sama belajar agar lebih dewasa lagi.”
“Aku percaya itu, Gema.”
“Kamu masih punya perasaan yang sama dengan aku kan?” tanyanya sambil memegang tangan Nada.
“Tentu. Rasa sayang aku sama kamu gak pernah berubah sampai detik ini. Bahkan, aku percaya Tuhan pasti mempertemukan aku dan kamu lagi, seperti sekarang ini.”

Gema memeluk erat Nada, dia tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi. Kini, Gema dan Nada adalah dua insan yang dipertemukan kembali, menjadi pribadi baru, dan kembali mengukir kisah yang baru. Gema dan Nada sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer