SURPRISE!
Karya
: Regina Krisna Santi (@reginacintem)
Sinar
matahari masuk dalam celah-celah sudut kamar, membuat mata Bian dipaksa untuk
melihat hari baru, dimana ada sebuah
semangat dan keceriaan. Bian enggan bangun dari tempat tidurnya, ia masih ingin
menikmati dan bermanja dengan kasurnya, tetapi keinginan hanya sebuah wacana. “BIAN!!!”
sepagi ini suara Naomi sudah mengguncangkan rumah. Berisik! Terdengar pinjakan
dan langkahan kaki kearah kamar Bian, dan Naomi berhasil menghancurkan
keinginan adiknya untuk melanjutkan tidur dan bermalas-malasan di atas kasur. “Apa
sih, kak?” tanya Bian enggan membuka mata. “Ada Aldo di bawah, temuin dia gih.”
Jawab Naomi sambil menarik selimut yang sedang membaluti tubuh Bian. Sementara
Bian mengingat-ingat apakah mempunyai janji dengan Aldo, sahabatnya itu.
Setelah berpikir beberapa menit, dia tetap keukeuh
tidak memiliki janji dengan Aldo, lalu untuk apa Aldo datang sepagi ini ke
rumah Bian? Entahlah!
Setelah
mencuci wajah dan sikat gigi, Bian menuruni anak tangga dan melihat Aldo sedang
membaca koran, gaya sahabatnya sudah seperti bapak-bapak yang setiap pagi
membaca koran dan minum teh hangat. Ekor mata kiri Aldo melirik kaki Bian yang
sedang mengetuk-ngetuk lantai “Hallo Bian” sapa Aldo sambil membenarkan posisi
duduknya, Bian pun duduk di samping Aldo. “Kita gak ada janji kan?” tanya Bian
sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00 wib. Aldo hanya
menggangguk. “terus kamu ngapain ke rumah aku sepagi ini, Do? Aku masih ngantuk
banget.” Tanya Bian sambil menguap. “Aku mau kasih kamu hadiah, kita harus
merayakan kelulusan kamu” terangnya. Bian sama sekali tidak mengerti maksud dan
tujuan Aldo, ya memang Bian baru saja mendapat gelar Sarjana. “Sekarang kamu
mandi ya, sepuluh menit cukup kan untuk mandi?” tanyanya sambil melirik pada
jam di tangannya. “Well.” Singkat Bian.
Sepuluh
menit berlalu, Bian sudah siap dengan kaus berwarna putih dibaluti oleh celana jeans di atas lutut berwarna biru muda,
dan sepatu converse berwarna merah.
Tak lupa dia mengenakan jam tangan di sebelah kiri, dan aksesoris gelang berwarna
coklat dan hijau berinisial namanya ‘B’, oh ya dia juga membawa tas yang berisi
kamera Polaroid, dompet, dan ponsel. “Siap!”
kali ini Bian tersenyum pada sosok sahabatnya. “Kak Naomi, aku pergi sama Aldo
ya.” Pamit Bian pada kakak super suara kerasnya itu. “Hati-hati!” balas Naomi
dengan teriak dari balik dapur.
“Kita
mau pergi kemana?” tanya Bian penasaran.
“Udah
diem aja deh, ini kejutan. Kalau aku kasih tahu namanya bukan kejutan lagi.” Jelas
Aldo sambil mengendari mobilnya.
Saat
memasuki tol Bandara Soekarno Hatta, Bian terlihat cemas dan panik “Eh eh… aku
mau dibawa kemana sama kamu sih?” Aldo yang mendengar pertanyaan Bian hanya
diam. Bian memang cewek yang super cerewet, dan tingkat penasarannya tinggi sekali,
jadi tidak heran kalau dia seperti itu. Setelah Aldo sukses memarkirkan mobil,
dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Bian. “Ayo!” ajaknya
sambil menggandeng tangan Bian, layaknya anak kecil yang perlu digenggam
tangannya agar tidak hilang dari orangtuanya. Rasanya Bian ingin bertanya ‘mau kemana kita sebenarnya’ tetapi kalau
dia bertanya, pasti akan kena omelan Aldo, jadi lebih baik dia diam.
Tidak
disangka, sepagi ini Bian sudah duduk di ruang tunggu, menunggu pesawat yang
sebenarnya dia tidak tahu mau kemana. Entahlah, Aldo ingin membawanya kemana,
Bian pasrah. Aldo mengeluarkan earphone
dan memasangkan ke telinga Bian. “Eh apaan sih ini?” tanyanya tak mengerti.
Aldo menyetelkan lagu-lagu yang super duper berisik, sebenarnya Bian tidak
menyukai lagu yang ber-genre musik rock,
Aldo benar-benar keterlaluan dia memberikan volume 75%, asli Bian hanya
mendengar suara musik rock. Sepuluh menit dia mendengarkan musik rock, Aldo
mengandeng dan menggiring Bian pada
pesawat yang ingin mereka tumpangi.
Lima
puluh menit berada di udara akhirnya pesawat yang mereka tumpangi landing dengan sempurna. Bian sangat
familiar dengan bandara ini, JOGJA! Ya, pasti ini Bandara Jogja. Setelah turun
dari pesawat, dan tepat sekali bahwa Bandara ini Jogja. Tapi mau dibawa kemana aku sama Aldo? Mata Aldo seperti sedang
mencari seseorang yang ingin dia temui, setelah lima menit mencari, ada seorang
lelaki paruh baya menghampirinya “Mas Aldo.” Si punya nama menoleh dan
menyalami lelaki paruh baya ini “Om Dion, makasih sudah jemput kami. Kenalkan
ini Bian sahabat Aldo.” Bian mengulurkan tangan dan menjabat tangan Om Dion.
Di
dalam mobil, Bian hanya mendengarkan perbincangan antara Om dan Keponakan, dia
sama sekali tidak paham bahasa yang digunakan oleh dua lelaki yang berada di
dalam mobil ini. Mereka menggunakan bahasa jawa yang halus, jadi Bian tidak
paham. Rasanya mata Bian ingin terpejam, sepertinya perjalanan masih jauh.
Dalam hitungan detik, mata Bian terpenjam seperti orang yang sedang di bius,
langsung tidur dan tidak sadarkan diri.
***
“Bi….”
Aldo membangunkan Bian.
Bian
tidak bangun, dia tertidur pulas. Om Dion tersenyum dan tertawa saat Aldo
membangunkan Bian.
“Bian…”
sekali lagi Aldo membangunkan Bian.
Kedua
kalinya, Aldo gagal membangunkan cewek yang sedang asyik tidur pulas.
“Mas
Aldo, sepertinya Mbak Bian lelah. Biar saja di dalam mobil dulu, nanti juga dia
pasti nyari Mas Aldo.” Saran Om Dion pada Aldo. Aldo mengangguk tanda setuju,
setelah itu Aldo berjalan dan menghirup udara segar.
Air
keringat mulai mengucur di tubuh Bian, terik matahari pun memancarkan sinar
tepat pada kaca mobil Om Dion. Perlahan Bian membuka matanya, dan memperhatikan
sekelilingnya. Melihat ke kanan dan depan mobil nampaknya tak ada satu pun di
mobil ini kecuali Bian. Aldo dan Om Dion
kemana? Kok aku di tinggal sendirian. Tanpa berpikir panjang Bian langsung
turun dari mobil dan melihat sebuah papan kayu yang berdiri tegak bertuliskan
sebuah nama “Pantai Sadranan” ucap Bian membaca tulisan pada papan kayu
tersebut. Dia berlari dan melihat sebuah pantai yang biru, bersih, di padukan
dengan pasir pantai berwarna putih.
“GILA
INI BENER-BENER KEREN BANGET!!!!” teriak Bian, seperti anak kecil yang sedang
mendapatkan kejutan paling istimewa. Aldo mendengar suara Bian dan dia
menghampiri sahabatnya di pesisir pantai.
“SURPRISE!
Selamat mendapatkan kebebasan dari jeratnya masa-masa kuliah ya, kamu pantas
mendapatkan ini semua. Selamat Sarjana Psikologi, Bian!” ucap Aldo penuh dengan
semangat dan senyum yang sumringah.
Binar
mata Bian nampak dengan jelas bahwa dia bahagia, kali pertama dia bisa melihat
pantai secantik ini. “Ini keren banget,
Do. Aku suka banget. Makasih ya!” reflex
Bian memeluk Aldo dengan kencang. Aldo membalas pelukan dari Bian.
“Sebenarnya
ini dimana sih? Kamu tuh penuh kejutan banget ya!”
“Ini
di daerah Gunung Kidul, Wonosari. Tadi kita perjalanan dari Jogja ke pantai ini
kurang lebih dua jam lah. Untung tidak macet, kalau macet mungkin bisa sampai
empat jam kali, hehehehe.” Akhirnya Aldo menjawab sebuah rasa penasaran Bian
yang sedari tadi menanyakan ‘aku mau
dibawa kemana Aldo?’
“Makasih
banyak ya, Do.” Untuk ke sekian kalinya Bian mengucapkan terima kasih pada
Aldo. “Aku bahagia banget punya sahabat kayak kamu, Do” lanjutnya sambil
merangkul pundak Aldo. Tetapi Aldo tidak merespon ucapan Bian, dia diam. Bian
menikmati kesunyian ini, dia menghirup udara pantai dalam-dalam, dan merasakan
setiap angin yang masuk pada cela helaian rambutnya.
Aldo
meraih tangan Bian, sesaat Bian tak sadar, dia terlalu menikmati keindahan alam
milik Tuhan. Ketika Aldo mulai menggenggam tangan Bian, dia tersadar dan
menoleh ke arah Aldo. Kali ini, wajah mereka berdekatan hanya beda lima senti meter
saja. Aldo menarik napas panjang, sementara Bian melihat kejadian ini sangat
aneh.
“Bian
aku gak tahu perasaan ini mulai berubah sejak kapan, aku cuma mau bilang kalau
aku sayang sama kamu lebih dari sahabat.” Ucap Aldo dengan jujur, dan terdengar
bahwa Aldo hanya menggunakan satu napas ketika mengatakan perasaannya pada
Bian.
Reaksi
Bian yang pertama tentu kaget, tetapi dia tidak melepaskan genggaman Aldo,
justru Bian semakin menggenggam tangan Aldo dengan lembut. Bian tersenyum “Sejujurnya
aku kaget mendengar ini semua. Aku menghargai perasaanmu, tetapi kamu pun harus
realistis bahwa aku dan kamu akan menjadi kita sebagai sepasang sahabat, bukan
kekasih. Aku tidak mau menodai persahabatan kita dengan rasa cinta, aku ingin
kamu menjadi sahabat aku seutuhnya dan selamanya. Aku sangat menyayangi kamu
sebagai sahabatku, aku gak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau kita sampai
pacaran, kemudian putus. Ya, aku tidak mau ini terjadi, tetapi kita harus
realistis aja. Aku hanya ingin menjadi sahabatmu, selamanya. Semoga kamu
mengerti dengan keputusanku.” Bian tersenyum dengan lembut saat menatap mata
Aldo.
“Sebagai
seorang sahabat, aku bertanggung jawab untuk menghargai keputusanmu, karena
menurutku ini bukan sebuah kewajiban atau keharusan melainkan tanggung jawab.
Aku hanya takut, kehilangan kamu setelah kamu memiliki kekasih”
“Kamu
tidak perlu takut, Aldo. Aku bertanggung jawab menjadi sahabatmu, selamanya.
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun, aku berjanji. Pantai
Sadranan dan seluruh isi alam jagat raya ini akan menjadi saksi janji
persahabatan aku padamu. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah
meninggalkanmu.” Bian mencoba menyakinkan Aldo.
Aldo
langsung memeluk Bian dengan erat “Aku percaya sama kamu, Bian. Kita akan
selamanya menjadi sahabat.”
Pantai
Sadranan menjadi saksi bisu janji persahabatan di antara Bian dan Aldo. Menurut
mereka, persahabatan akan selalu bermakna melebihi apapun yang ada di dunia
ini.
NB
: Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari
Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis


06.59
reginacintem


0 komentar:
Posting Komentar