Choose your Language :

English French German Spain Italian
Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG DI WEBLOG AKU....SILAKAN BACA DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA...............

Rabu, 13 Mei 2015

SURPRISE!

SURPRISE!

Karya : Regina Krisna Santi (@reginacintem)

Sinar matahari masuk dalam celah-celah sudut kamar, membuat mata Bian dipaksa untuk melihat hari  baru, dimana ada sebuah semangat dan keceriaan. Bian enggan  bangun dari tempat tidurnya, ia masih ingin menikmati dan bermanja dengan kasurnya, tetapi keinginan hanya sebuah wacana. “BIAN!!!” sepagi ini suara Naomi sudah mengguncangkan rumah. Berisik! Terdengar pinjakan dan langkahan kaki kearah kamar Bian, dan Naomi berhasil menghancurkan keinginan adiknya untuk melanjutkan tidur dan bermalas-malasan di atas kasur. “Apa sih, kak?” tanya Bian enggan membuka mata. “Ada Aldo di bawah, temuin dia gih.” Jawab Naomi sambil menarik selimut yang sedang membaluti tubuh Bian. Sementara Bian mengingat-ingat apakah mempunyai janji dengan Aldo, sahabatnya itu. Setelah berpikir beberapa menit, dia tetap keukeuh tidak memiliki janji dengan Aldo, lalu untuk apa Aldo datang sepagi ini ke rumah Bian? Entahlah!
Setelah mencuci wajah dan sikat gigi, Bian menuruni anak tangga dan melihat Aldo sedang membaca koran, gaya sahabatnya sudah seperti bapak-bapak yang setiap pagi membaca koran dan minum teh hangat. Ekor mata kiri Aldo melirik kaki Bian yang sedang mengetuk-ngetuk lantai “Hallo Bian” sapa Aldo sambil membenarkan posisi duduknya, Bian pun duduk di samping Aldo. “Kita gak ada janji kan?” tanya Bian sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00 wib. Aldo hanya menggangguk. “terus kamu ngapain ke rumah aku sepagi ini, Do? Aku masih ngantuk banget.” Tanya Bian sambil menguap. “Aku mau kasih kamu hadiah, kita harus merayakan kelulusan kamu” terangnya. Bian sama sekali tidak mengerti maksud dan tujuan Aldo, ya memang Bian baru saja mendapat gelar Sarjana. “Sekarang kamu mandi ya, sepuluh menit cukup kan untuk mandi?” tanyanya sambil melirik pada jam di tangannya. “Well.” Singkat Bian.
Sepuluh menit berlalu, Bian sudah siap dengan kaus berwarna putih dibaluti oleh celana jeans di atas lutut berwarna biru muda, dan sepatu converse berwarna merah. Tak lupa dia mengenakan jam tangan di sebelah kiri, dan aksesoris gelang berwarna coklat dan hijau berinisial namanya ‘B’, oh ya dia juga membawa tas yang berisi kamera Polaroid, dompet, dan ponsel. “Siap!” kali ini Bian tersenyum pada sosok sahabatnya. “Kak Naomi, aku pergi sama Aldo ya.” Pamit Bian pada kakak super suara kerasnya itu. “Hati-hati!” balas Naomi dengan teriak dari balik dapur.
“Kita mau pergi kemana?” tanya Bian penasaran.
“Udah diem aja deh, ini kejutan. Kalau aku kasih tahu namanya bukan kejutan lagi.” Jelas Aldo sambil mengendari mobilnya.
Saat memasuki tol Bandara Soekarno Hatta, Bian terlihat cemas dan panik “Eh eh… aku mau dibawa kemana sama kamu sih?” Aldo yang mendengar pertanyaan Bian hanya diam. Bian memang cewek yang super cerewet, dan tingkat penasarannya tinggi sekali, jadi tidak heran kalau dia seperti itu. Setelah Aldo sukses memarkirkan mobil, dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Bian. “Ayo!” ajaknya sambil menggandeng tangan Bian, layaknya anak kecil yang perlu digenggam tangannya agar tidak hilang dari orangtuanya. Rasanya Bian ingin bertanya ‘mau kemana kita sebenarnya’ tetapi kalau dia bertanya, pasti akan kena omelan Aldo, jadi lebih baik dia diam.
Tidak disangka, sepagi ini Bian sudah duduk di ruang tunggu, menunggu pesawat yang sebenarnya dia tidak tahu mau kemana. Entahlah, Aldo ingin membawanya kemana, Bian pasrah. Aldo mengeluarkan earphone dan memasangkan ke telinga Bian. “Eh apaan sih ini?” tanyanya tak mengerti. Aldo menyetelkan lagu-lagu yang super duper berisik, sebenarnya Bian tidak menyukai lagu yang ber-genre musik rock, Aldo benar-benar keterlaluan dia memberikan volume 75%, asli Bian hanya mendengar suara musik rock. Sepuluh menit dia mendengarkan musik rock, Aldo mengandeng  dan menggiring Bian pada pesawat yang ingin mereka tumpangi.
Lima puluh menit berada di udara akhirnya pesawat yang mereka tumpangi landing dengan sempurna. Bian sangat familiar dengan bandara ini, JOGJA! Ya, pasti ini Bandara Jogja. Setelah turun dari pesawat, dan tepat sekali bahwa Bandara ini Jogja. Tapi mau dibawa kemana aku sama Aldo? Mata Aldo seperti sedang mencari seseorang yang ingin dia temui, setelah lima menit mencari, ada seorang lelaki paruh baya menghampirinya “Mas Aldo.” Si punya nama menoleh dan menyalami lelaki paruh baya ini “Om Dion, makasih sudah jemput kami. Kenalkan ini Bian sahabat Aldo.” Bian mengulurkan tangan dan menjabat tangan Om Dion.
Di dalam mobil, Bian hanya mendengarkan perbincangan antara Om dan Keponakan, dia sama sekali tidak paham bahasa yang digunakan oleh dua lelaki yang berada di dalam mobil ini. Mereka menggunakan bahasa jawa yang halus, jadi Bian tidak paham. Rasanya mata Bian ingin terpejam, sepertinya perjalanan masih jauh. Dalam hitungan detik, mata Bian terpenjam seperti orang yang sedang di bius, langsung tidur dan tidak sadarkan diri.
***
“Bi….” Aldo membangunkan Bian.
Bian tidak bangun, dia tertidur pulas. Om Dion tersenyum dan tertawa saat Aldo membangunkan Bian.
“Bian…” sekali lagi Aldo membangunkan Bian.
Kedua kalinya, Aldo gagal membangunkan cewek yang sedang asyik tidur pulas.
“Mas Aldo, sepertinya Mbak Bian lelah. Biar saja di dalam mobil dulu, nanti juga dia pasti nyari Mas Aldo.” Saran Om Dion pada Aldo. Aldo mengangguk tanda setuju, setelah itu Aldo berjalan dan menghirup udara segar.
Air keringat mulai mengucur di tubuh Bian, terik matahari pun memancarkan sinar tepat pada kaca mobil Om Dion. Perlahan Bian membuka matanya, dan memperhatikan sekelilingnya. Melihat ke kanan dan depan mobil nampaknya tak ada satu pun di mobil ini kecuali Bian. Aldo dan Om Dion kemana? Kok aku di tinggal sendirian. Tanpa berpikir panjang Bian langsung turun dari mobil dan melihat sebuah papan kayu yang berdiri tegak bertuliskan sebuah nama “Pantai Sadranan” ucap Bian membaca tulisan pada papan kayu tersebut. Dia berlari dan melihat sebuah pantai yang biru, bersih, di padukan dengan pasir pantai berwarna putih.
“GILA INI BENER-BENER KEREN BANGET!!!!” teriak Bian, seperti anak kecil yang sedang mendapatkan kejutan paling istimewa. Aldo mendengar suara Bian dan dia menghampiri sahabatnya di pesisir pantai.
“SURPRISE! Selamat mendapatkan kebebasan dari jeratnya masa-masa kuliah ya, kamu pantas mendapatkan ini semua. Selamat Sarjana Psikologi, Bian!” ucap Aldo penuh dengan semangat dan senyum yang sumringah.
Binar mata Bian nampak dengan jelas bahwa dia bahagia, kali pertama dia bisa melihat pantai secantik ini.  “Ini keren banget, Do. Aku suka banget. Makasih ya!” reflex Bian memeluk Aldo dengan kencang. Aldo membalas pelukan dari Bian.
“Sebenarnya ini dimana sih? Kamu tuh penuh kejutan banget ya!”
“Ini di daerah Gunung Kidul, Wonosari. Tadi kita perjalanan dari Jogja ke pantai ini kurang lebih dua jam lah. Untung tidak macet, kalau macet mungkin bisa sampai empat jam kali, hehehehe.” Akhirnya Aldo menjawab sebuah rasa penasaran Bian yang sedari tadi menanyakan ‘aku mau dibawa kemana Aldo?’
“Makasih banyak ya, Do.” Untuk ke sekian kalinya Bian mengucapkan terima kasih pada Aldo. “Aku bahagia banget punya sahabat kayak kamu, Do” lanjutnya sambil merangkul pundak Aldo. Tetapi Aldo tidak merespon ucapan Bian, dia diam. Bian menikmati kesunyian ini, dia menghirup udara pantai dalam-dalam, dan merasakan setiap angin yang masuk pada cela helaian rambutnya.
Aldo meraih tangan Bian, sesaat Bian tak sadar, dia terlalu menikmati keindahan alam milik Tuhan. Ketika Aldo mulai menggenggam tangan Bian, dia tersadar dan menoleh ke arah Aldo. Kali ini, wajah mereka berdekatan hanya beda lima senti meter saja. Aldo menarik napas panjang, sementara Bian melihat kejadian ini sangat aneh.
“Bian aku gak tahu perasaan ini mulai berubah sejak kapan, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu lebih dari sahabat.” Ucap Aldo dengan jujur, dan terdengar bahwa Aldo hanya menggunakan satu napas ketika mengatakan perasaannya pada Bian.
Reaksi Bian yang pertama tentu kaget, tetapi dia tidak melepaskan genggaman Aldo, justru Bian semakin menggenggam tangan Aldo dengan lembut. Bian tersenyum “Sejujurnya aku kaget mendengar ini semua. Aku menghargai perasaanmu, tetapi kamu pun harus realistis bahwa aku dan kamu akan menjadi kita sebagai sepasang sahabat, bukan kekasih. Aku tidak mau menodai persahabatan kita dengan rasa cinta, aku ingin kamu menjadi sahabat aku seutuhnya dan selamanya. Aku sangat menyayangi kamu sebagai sahabatku, aku gak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau kita sampai pacaran, kemudian putus. Ya, aku tidak mau ini terjadi, tetapi kita harus realistis aja. Aku hanya ingin menjadi sahabatmu, selamanya. Semoga kamu mengerti dengan keputusanku.” Bian tersenyum dengan lembut saat menatap mata Aldo.
“Sebagai seorang sahabat, aku bertanggung jawab untuk menghargai keputusanmu, karena menurutku ini bukan sebuah kewajiban atau keharusan melainkan tanggung jawab. Aku hanya takut, kehilangan kamu setelah kamu memiliki kekasih”
“Kamu tidak perlu takut, Aldo. Aku bertanggung jawab menjadi sahabatmu, selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun, aku berjanji. Pantai Sadranan dan seluruh isi alam jagat raya ini akan menjadi saksi janji persahabatan aku padamu. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Bian mencoba menyakinkan Aldo.
Aldo langsung memeluk Bian dengan erat “Aku percaya sama kamu, Bian. Kita akan selamanya menjadi sahabat.”
Pantai Sadranan menjadi saksi bisu janji persahabatan di antara Bian dan Aldo. Menurut mereka, persahabatan akan selalu bermakna melebihi apapun yang ada di dunia ini.








NB : Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by 12ndhamster | Bloggerized by Bagaspatinizer - Bagaspatizen | Grants for Bagaspatinizer