Yogyakarta
Gue bingung mau mulai
dari mana ketika menulis judul “Yogyakarta”, yang jelas gue mau cerita. Cerita
tentang hidup gue selama lima tahun tinggal di Jogja.
Pertama-tama gue sama
sekali engga menyangka akan tinggal dan kuliah di Jogja, sama sekali gak ada
dalam pikiran gue dari SD – SMA kelas 2, bahkan gue engga pernah mau jauh dari orangtua gue, hahaha biasa anak paling
bungsu. Gue baru ke pikiran untuk kuliah di Jogja ketika gue di hadapkan pada tiga
pilihan Universitas. Oh ya, lima tahun lalu gue pernah nyoba daftar di 3
Universitas Swasta (Universitas Trisakti, Universitas Bina Nusantara, dan
Universitas Sanata Dharma), dan alhasil ketiga-tiganya keterima. Gue gak
nyangka juga akan ke terima di tiga Universitas. Jujur gue itu otaknya
pas-pasan, dan bukan tergolong dalam murid pinter di sekolah gue. Oke, waktu
itu gue adalah manusia galau segalau-galaunya. Gue pikir urusan cinta aja yang
bikin galau, ternyata lanjutan studi pun bikin galau. Gue bawa dalam doa ketika
memutuskan pilihan, akhirnya gue pilih Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
“KENAPA?” seperti itu lah pertanyaan yang muncul dari temen-temen gue. “Mau
bebas ya?” Gue cuma ketawa ketika teman-teman gue mempunyai persepsi
masing-masing tentang pilihan gue. Jujur, persepsi mereka benar “Ya, gue ingin
mencari kebebasan yang positif!” Sesungguhnya kebebasan yang positif adalah gue
ingin belajar mandiri, ingin mencari jati diri, ingin tahu hidup dalam dunia
nyata, gue engga mau melulu hidup dengan teman yang itu-itu aja, gue ingin
punya banyak teman, mengenal budaya lain, gue ingin berubah jadi orang yang
lebih baik lagi, gue ingin bebas mengeksplor diri gue dalam hal positif. Itu
yang gue cari!
Semua yang gue cari dan
harapkan, gue dapatkan! Orangtua gue sendiri yang bilang kalau gue itu beda,
beda banget dari gue yang sebelum kuliah. “Anak Bapak sama Mama udah jadi gadis
yang dewasa, bukan hanya usia yang mendewasakan kamu, pemikiran pun
mendewasakan pribadi kamu.” Begitu kata Mama sama Bapak gue. Gue percaya apa
yang dikatakan orangtua gue, karena beliau lah yang tahu gue dari bayi. Gue pun
menyadari akan perubahan yang dikatakan oleh orangtua gue.
Tepat tanggal 27 Juni
2015 nanti, gue lima tahun tinggal di Jogja. Hmmm… Jogja tuh banyak cerita
banget, tentang hidup gue tinggal di Asrama, tentang temen-temen gue di
Fakultas, tentang kisah cinta gue
#halah. Gue sangat bersyukur atas
keputusan yang gue pilih. Setidaknya gue engga salah dalam memilih keputusan.
Di Jogja gue ketemu
mereka; Asrama (keluarga kecil gue), Kepompong (delapan sekawan gue), Sekilas
Cinta (Penabur Kenangan). Lain waktu gue akan cerita satu per satu, di mulai
dari Asrama, Kepompong, dan Sekilas Cinta gue.
Pokoknya, Jogja itu
penuh dengan kenangan yang gak bisa gue lupakan. Sayang untuk dilupakan karena
mendapatkan setiap moment yang sangat berkesan itu sulit. Gue percaya kalau
“Jogja Istimewa”.
Terima kasih untuk
mereka yang telah membuat hari-hari gue wajib untuk mengucapkan rasa syukur karena
ada kalian. Secara gak langsung mereka lah yang membuat gue seperti sekarang
ini. Terima kasih.
Buat yang baca
postingan edisi “Yogyakarta” dan adik-adik yang baru mau pilih tempat kuliah,
gue saranin doa dulu sebelum memilih keputusan, gak perlu ikut kata temen,
emang yang ngatur hidup kamu adalah teman? Bukan, toh. Yang menentukan masa
depanmu adalah kamu sendiri. Jadi yakinkan diri kamu, Satu hal lagi, ketika
kamu sudah memilih selesaikan.
“Kalau jauh dari
orangtua pasti kangen dong?”, JELAS! Gue pernah ngerasain kangen sama orangtua,
dan itu wajar. Nangis kangen sama orangtua, wajar. Apalagi waktu pertama kali
gue pergi ke Jogja, ya ada kali seminggu gue sedih banget. Tapi gue sadar, itu
pilihan gue, dan harus gue selesaikan. Gue buang rasa sedih dan gue raih mimpi
gue.
Jujur ya, kalau gue
engga milih jauh dari orangtua gue pasti jadi anak bungsu yang amat sangat
manja, dan gue sama sekali gak berkembang, engga kenal budaya orang lain. Kalau
emang ingin kuliah jauh dari orangtua,
yakinin orangtua kalau kamu akan jadi manusia yang berkembang. Sekali orangtua
udah kasih kepercayaan sama kamu, tolong di jaga! Itu kunci kalau emang kamu
mau dipercaya sama orangtua, jangan pernah kecewain orangtua dengan tindakan
bodoh yang kalian lakukan. Pinter-pinter bergaul, bergaul dengan orang-orang
yang tepat, kuatkan iman, dan jaga hati.
Oke, cukup sekian kisah
gue. Terima kasih sudah membaca ya. J
Kalau mau sharing boleh kok mention ke @reginacintem


06.09
reginacintem

2 komentar:
Hai kak! Makasih atas sharingnya.. Aku mau nanya seputar asrama syantikara, boleh ga?
Hai, maaf baru balas. Boleh silakan dengan senang hati.
Posting Komentar